Mudik, pulang ke kampung halaman, bukan sebatas peristiwa, ia adalah sebuah makna. Ia memang sebuah pergerakan fisik, biasanya dari kota tempat dirinya merantau, menuju desa atau kampung halaman tempat dirinya lahir dan dibesarkan. Tapi, dalam peristiwa ini, sebenarnya terselip sebuah makna, bagi mereka yang mencoba berpikir ulang. Selain sebatas sebuah peristiwa, sebenarnya mudik itu apa maknanya?
Di sinilah kemudian, mudik menjadi pengalaman eksistensial seseorang yang tentu kecenderungannya bakal berbeda-beda ceritanya. Bagi saya sendiri, dulu mudik semacam cara mengobati kangen kepada orang tua. Apapun keadaannya, pulang ketika lebaran menjadi semacam “Ritual Wajib” tahunan. Hanya, setelah ibunda saya meninggal di usianya yang ke 40-an tahun, hasrat untuk mudik, pulang kampung itu menjadi tak terlalu kuat.
Saat itu, usia saya masih 20-an. Setelah ibu saya meninggal, bahkan hidup kemudian benar-benar menjadi hambar. Kuliah, menjadi sarjana tidak menarik lagi, apalagi bekerja? Untuk apa. Saya kuliah, bekerja, satu tujuan utamanya, membahagiakan ibu saja. Ketika sosok itu telah tiada, hidup menjadi tak menarik lagi. Dari situ, hidup kemudian mengalir begitu saja.
Sampai suatu ketika, di usia saya yang mungkin sudah terlalu lama melajang, terbesit sebuah pengalaman kecil. Ketika ibu saya meninggal, masih ada saya sebagai anaknya yang setiap hari masih bisa mendoakannya. Nah, ketika saya nanti meninggal, “Siapa yang bakal mendoakan saya?”
Dari situ, menikah dan punya anak sepertinya ide menarik. Singkat cerita, kemudian saya punya satu istri yang masih bersama hingga sekarang. Juga anak-anak hebat, Jingga Kananya, Java Profetika, Junta Revolta (absen) dan Janna Ayasofia. Mereka lahir dan besar di Jakarta dan Depok.
Tidak punya kampung halaman. Maka, mengajaknya untuk mudik ke kampung halaman ayahnya. Bertemu dengan eyangnya dengan istri barunya sekarang, saya kira ide menarik bagi pengalaman “eksistensial” mereka.
Albert Camus, pemikir eksistensialis Perancis punya pandangan menarik. Salah satunya, penting untuk dipikirkan dalam hidup. Apakah hidup layak dijalani, atau tidak? Ia bertanya seperti itu, karena hidup ini absurd. Sama seperti mudik dengan banyak motif yang absurd dan tidak masuk akal. Apakah mudik kemudian menjadi layak untuk dijalani?
Alasan demikian yang kemudian menjadikan mudik relevan. Saya sudah berkeluarga dan punya anak-anak. Pengalaman-pengalaman “Eksistensial” mudik sepertinya perlu dirasakan anak-anak juga. Sebagai bentuk pengalaman melihat dunia lain, dunia yang berbeda. Tak sebatas pada kehidupannya sekarang.
Memang, banyak tafsir tentang mudik. Umpamanya, secara bahasa, mudik itu berasal dari kata udik yang artinya hulu sungai atau pedalaman. Kalau diperhatikan, air di hulu itu selalu lebih bening dan segar daripada air yang sudah sampai di hilir atau muara. Itulah filosofi utamanya.
Bagi sebagian orang, mudik mungkin bisa dimaknai dengan mewah sebagai misalnya pengalaman spiritual. Tapi, bagi anak-anak saya, mungkin terlalu jauh ke sana.
Konon, “Manusia itu homo festivus, suka berfestival. Mudik sepertinya juga merupakan acara festival. Biarkan anak-anak punya pengalaman demikian. Ada upaya mengenang (tradisi) masa lalu, mengenalkan tradisi itu kepada anak-anak sekarang serta memprediksi peluang pengembangan nilai tradisi untuk hari esok.
Singkat cerita, kini, biarkan mudik hadir sebagai pengalaman “Eksistensial” anak-anak sehingga punya ingatan dan kenangan. Selanjutnya, biarkan mereka besar, tumbuh dan memaknai pengalaman-pengalaman itu pada kemudian hari dengan pandangan masing-masing. []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)