Ada ayah yang gemar menasihati. Kata-katanya panjang, petuahnya banyak. Setiap kesalahan anak disambut dengan ceramah tentang benar dan salah. Namun ada pula ayah yang berbeda. Ia tidak banyak bicara, tetapi rumahnya penuh pelajaran. Anak-anaknya belajar bukan dari kata-kata, melainkan dari laku yang setiap hari mereka lihat.
Ayah jenis ini jarang berkata, “Kamu harus begini” atau “Jangan begitu.” Ia memilih memperlihatkan bagaimana seharusnya hidup dijalani. Ketika adzan berkumandang, ia bangkit lebih dulu, mengambil wudhu tanpa tergesa, lalu berjalan ke masjid. Anak yang melihatnya belajar bahwa panggilan Tuhan bukan sesuatu yang ditunda-tunda. Tanpa ceramah panjang tentang kewajiban, kebiasaan itu pelan-pelan menjadi bagian dari hidup mereka.
Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya teladan. Allah berfirman:
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian…” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat ini tidak berbicara tentang ceramah Rasulullah semata, tetapi tentang kehidupan beliau yang menjadi contoh. Pendidikan terbesar dalam Islam memang sering lahir dari keteladanan.
Ketika bertemu tetangga, ayah itu selalu menyapa lebih dulu. Ketika ada orang tua datang, ia berdiri dan mempersilakan duduk. Anak-anak memperhatikan. Tanpa disadari mereka meniru. Bukan karena diperintah, tetapi karena merasa itulah cara yang wajar untuk bersikap.
Di meja makan, ayah mengambil secukupnya. Ia tidak pernah mencela makanan. Jika ada yang jatuh, ia memungutnya. Jika ada yang tersisa, ia menyimpannya. Dari hal kecil seperti ini anak-anak belajar tentang menghargai rezeki.
Rasulullah sendiri mendidik para sahabat dengan cara yang sangat sederhana namun kuat melalui teladan. Dalam sebuah riwayat dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, para sahabat bercerita bahwa mereka belajar adab dari kebiasaan Rasulullah: cara beliau makan, cara beliau berbicara, bahkan cara beliau memperlakukan pembantu dan anak kecil.
Begitu pula kisah para sahabat. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab sangat berhati-hati dalam bersikap di rumah. Ia pernah berkata bahwa anak-anak akan meniru orang tuanya, karena itu ia berusaha menjaga perilakunya di depan keluarga. Bagi mereka, pendidikan bukan sekadar nasihat, tetapi contoh hidup.
Seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak, pernah mengatakan dalam kitab-kitab adab bahwa “Kami mempelajari adab lebih lama daripada mempelajari ilmu.” Sebab adab tidak cukup dipahami; ia harus dilihat dan dipraktikkan.
Ayah tanpa ceramah memahami satu hal penting: anak-anak adalah peniru yang setia. Mereka mungkin lupa apa yang didengar, tetapi jarang lupa apa yang mereka lihat setiap hari.
Karena itu ia berhati-hati dengan dirinya sendiri. Cara ia berbicara kepada ibu mereka, cara ia menahan marah, cara ia bekerja, bahkan cara ia meminta maaf, semuanya sedang menjadi pelajaran diam-diam bagi anak-anaknya.
Didikan seperti ini mungkin tampak sunyi. Tidak banyak kata, tidak banyak petuah. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Anak-anak tumbuh dengan contoh yang hidup, bukan sekadar kalimat yang mudah dilupakan.
Pada akhirnya, anak-anak mungkin tidak mengingat nasihat apa yang paling sering diucapkan ayah mereka. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana ayah mereka hidup.
Dan dari situlah adab diwariskan.
(Yons Achmad. Penulis Serial “OTW Ayah Kuat”)