Ayah dengan “Ilmu Tenang”

Setelah buka bersama bareng FORJIM (Forum Jurnalis Muslim) di Markas Dewan Dakwah, Kramat, Jakarta. Saya bareng anak kedua, “Java Profetika” salat Maghrib, lalu cepat bergegas pulang. Rencana, ngejar salat tarawih di Masjid Cut Meutia, seberang stasiun Gondangdia. Sayang, sudah penuh. Kami kebagian shaf terakhir. Setelah selesai jamaah Isya, karena kurang nyaman di bagian belakang, kami urungkan salat tarawih di masjid itu.

Menikmati kulineran sejenak di stasiun, lalu naik menuju loket masuk, mau pulang ke Depok saja. Di ujung, ada musala kecil. Tak ada yang salat, kecuali satu orang ayah yang penuh khusuk. Saya perhatikan, dia salat dua rakat, lalu lama terdiam. Duduk dengan tenang. Entah, apa yang sedang dilakukan. Berzikir atau merenungi nasib kehidupan. Entahlah. Satu hal yang pasti, dirinya cukup tenang.

Sosok itu kemudian lanjutkan salat. Saya dan anak juga memutuskan salah tarawih dan witir di musala stasiun itu. Udara sepoi-sepoi dan angin cukup segar. Jadi kita bisa tuntaskan salat sunnah malam itu, salat tarawih plus witir dengan 4-4-3 rakaat. Setelahnya, saya tak langsung bergegas pulang. Sejenak merenungi “Ilmu Tenang”.

Saya memang kerap dapati, seorang ayah duduk tenang di teras rumahnya sambil menyesap secangkir kopi, terlihat agak bengong di peron stasiun kereta api, menunggu dengan gelisah dagangan yang digelar di lapak-lapak mereka, menatap layar laptop dengan jiwa yang barangkali begitu gelisah. Memikirkan apa? Salah satunya keluarga. Nasib istri dan anak-anaknya.

Mereka semua, tampaknya mencari solusi dengan ketenangan. Memang, tak semua bisa. Banyak para ayah yang terlihat buru-buru, tabrak sana tabrak sini, halal dan haram menjadi nomor sekian, intinya pingin cepat dapat solusi terbaik untuk nasib diri dan keluarga bagaimanapun caranya. Kalau perlu cepat kaya. Memang begitulah, ada seribu wajah ayah dalam kehidupan ini.

Tapi, kali ini, bolehlah kita renung soal “Ilmu Tenang” ini. Memang, sebuah istilah yang saya ambil secara semena-mena. Tapi, bolehlah ini diartikan dengan bagaimana seorang ayah tetap tenang hadapi beragam persoalan dan terus mengusahakan beragam solusi terbaik yang bakal dijalankannya.

“Ilmu Tenang” ini saya kira mahal banget. Tak semua bisa menjalaninya. Fokus untuk terus melakukan pekerjaan-pekerjaan produktif sesuai rencana, tidak terlalu tergoda berkomentar apa saja atas beragam fenomena dibalik riah-riuh media sosial. Ia hanya fokus memulai semuanya dengan pikiran tenang.

Ada yang bilang “Our life is what our thoughts make it.” Hidup kita dibentuk awal mulanya oleh pikiran kita. Saya lumayan setuju. Kita mulai selesaikan pekerjaan dan beragam solusi lainnya dengan ketenangan pikiran. Memang ada orang yang bilang “Usaha Tidak Mengkhianati Hasil.” Kalau yang ini saya kurang sependapat. Tugas kita hanya terus berusaha sebaik-baiknya. Masalah hasil kita serahkan Allah SWT saja. []

(Yons Achmad. Penulis Serial “Ayah Kuat”)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these