Katakan “Saya Baik-Baik Saja”

Pemerintahan Prabowo-Gibran boleh suram, kita jangan. Kesimpulan yang cukup “heroik” ini, seperti biasa, menjadi keputusan penting acara ngopi-ngopi selepas tarawih bapak-bapak milenial yang menamakan dirinya dengan komunitas “Ayah Kuat”. Komunitas saling berbagi agar menjadi seorang ayah yang kuat setidaknya dalam tiga hal. Kuat finansial, kuat spiritual (mental) dan kuat secara sosial.

Ya benar. Katakan “Saya Baik-Baik Saja”.

Semacam “mantra” yang benar-benar kudu melekat dan dilekatkan dalam pikiran. Orang urban, biasanya menyebut ini sebagai “Mindset”. Dengan cara berpikir demikian, kita memandang segala yang ada di depan mata. Apa yang kita dengar, kita tonton, kita baca bukan sebagai problem yang membuat kita berkeluh kesah, tapi melihatnya sebagai peluang.

Sebagai alumni, yang rata-rata pernah menjadi aktivis semasa mudanya, memang kami paham betul. Bahwa segala pernah-pernik kehidupan kebangsaan, di mana Prabowo-Gibran sedang memegang kekuasaan, kami sadar betul kerja keras saja tak cukup. Kami memahami, memang ada problem struktural. Rakyat cenderung dimiskinkan secara sistem. Jangankan rakyat kecil, pengusaha besar yang tak punya akses kekuasaan, bakal kesulitan jalankan bisnis sekarang ini.

Kalau sudah begini, jangan dipikir sendiri, bisa stress gaes. Itu sebabnya, perlu ngopi-ngopi sejenak bareng kawan-kawan seperjuangan. Menyusun siasat dan taktik bagaimana bisa tumbuh, tidak sekadar survive di era yang katanya lebih buruk dari eranya pemerintahan Jokowi ini. Di Era Jokowi, pemerintah senang, rakyat (terutama relawan dan pendukungnya juga senang). Sementara, di era Prabowo, pemerintah senang, tapi hanya segelintir elit lingkar dekatnya saja yang senang. Sementara, katakan para relawan, pendukung, atau konstituennya, banyak yang “Gigit Jari”.

Itu realitas Bung. Kabar baiknya, percaya saja, peluang-peluang itu selalu ada. Bahkan lihat saja, “oposan” pemerintah di level masyarakat sipil semacam Dandy Laksono dan Farid Gaban dkk tetap bisa survive dan tumbuh dengan lahirkan karya berupa buku seperti “Reset Indonesia” dan beragam dokumentasi video (film doumenter/pendek) lainnya. Rocky Gerung, terus berkiprah jadi pembicara publik dengan “Salam Akal Sehatnya”, Pandji Pragiwaksono dengan stand up komedian “Mens Rea-nya” yang laris manis.

Singkat cerita. Mau masuk kekuasaan atau di luar kekuasaan, kalau kita punya skills yang bisa diandalkan dan terus bisa berkarya dengan lahirkan beragam solusi, tenang saja, hidup bakal menjadi baik-baik saja. Katakan “Saya Baik-Baik Saja” pada akhirnya memang menjadi kenyataan.

Ada kata-kata bijak, entah dari siapa tapi saya setuju. “Di mana engkau ditanam, tumbuhlah”. Begitulah, mau di dalam kekuasaan, mau di luar kekuasaan, ketika energi untuk tumbuh itu selalu hadir, bakal bisa mengubah hidup. Mulai dari kehidupan pribadi, keluarga. Siapa tahu juga bisa mengubah hidup bangsa ini menjadi lebih baik. Apa boleh buat, hari-hari ini memang perlu terus hadirkan optimisme. Kenapa? Karena pesimisme tidak pernah menghasilkan apa-apa. []

Foto: Di studio kerja. Host Podcast Depok.

Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these