Dekonstruksi Media Sosial

Ketika seseorang punya sesuatu yang bisa diandalkan, saya kira media sosial tidak begitu penting. Saya melihat, umpamanya, seorang ulama besar NU Gus Baha, aktor film semacam Nicholas Saputra atau Reza Rahadian. Mereka tidak punya media sosial. Tapi hidup tetap berjalan. Bisa berkontribusi pada bidangnya masing-masing.

Sementara, tak bisa dipungkiri. Banyak orang yang sibuk dan riuh di media sosial. Tapi sebenarnya “kosong”. Semua dibicarakan, semua dikomentari. Kabar kurang enaknya lagi, banyak yang merasa menjadi sosok yang begitu teramat penting. Karena merasa, misalnya viewer, follower atau subscribernya yang lumayan besar.

Itu sebabnya, kita perlu, meminjam istilah seorang filsuf yang namanya cukup populer dikalangan pemikir sosial, Jacques Derrida, tak lain tak bukan, “Dekonstruksi”. Ya, mendekostruksi keterlibatan kita pada media sosial.

Sosok ini memang dikenal ingin mandiri dalam berpikir. Kerap mengkritik gagasan para filsuf sebelumnya. Dia coba menawarkan sesuatu yang berbeda, yang di beberapa sisi kadang problematis. Dengan dekonstruksi misalnya, dia berupaya menawarkan cara berpikir menggoyang sesuatu yang konon sudah mapan.

Bicara dekonstruksi memang tak sederhana. Penuh penjelasan-penjelasan yang cukup rumit. Tapi, saya tidak akan membebani pikiran orang. Biarlah kita ambil sedikit pencerahan untuk bisa menjelaskan sesuai konteks. Maka, bolehlah kita ambil tiga prinsip Dekonstruksi Derrida seperti sans savoir, sans voir, dan sans avoir. Kita dedahkan pelan-pelan.

Sans Savoir (tidak mengetahui). Yaitu menggambarkan bahwa teks tidak selalu dapat ditangkap kebenarannya oleh pembaca secara total. Meskipun kebenaran tersebut dapat dikonfirmasi namun kosa kata memiliki keterbatasan dalam menggambarkan sesuatu. Pada media sosial, kita sudah pasti ingin memberikan pesan-pesan di dalam konten yang kita buat. Kadang, sering disalah pahami, maka, memberikan konteks apapun yang kita sodorkan bisa meminimalisir tafsir disalah pahami.

Sans Voir (tidak melihat) menggambarkan keterbatasan indra dan penglihatan kita terhadap kebenaran. Pesan pada media sosial memiliki redaksi dan penerimaan yang bervariasi yang mungkin bagi sebagian pembaca (penonton) lebih menonjol dibanding pembaca (penonton) lain. Jenjang pendidikan, ilmu, wawasan publik berbeda-beda. Maka biarkan saja keragamam penerimaan itu hadir. Kita tidak perlu memaksakan diri semua orang sepakat dengan kita. Satu hal yang penting, terus berbagi perspektif saja.

Sans Avoir (tidak memiliki), menyatakan bahwa kebenaran tidak menetap pada satu pembaca, tetapi bergerak menyebar ke pembaca-pembaca yang berbeda. Pembaca memiliki tingkat resepsi yang bervariasi. Bahkan frame reference mereka pun tidak selalu sama satu dengan yang lainnya. Maka efek yang dihasilkan dari teks pun pasti berbeda. Itu sebabnya, kita perlu memetakan sebenarnya siapa “publik” yang menjadi “sasaran” kita. Maka, buatlah kontens bukan untuk “Orang” tapi untuk “Seseorang”.

Dari dekonstruksi media sosial ini, bolehlah kita ambil pencerahan sedikit. Baiklah, media sosial kita hadirkan untuk menjelaskan bahwa kita itu “ada”.

Agar tak malah disalah pahami, berikan konteks atas apapun yang kita posting, biarkan keragaman penerimaan itu hadir. Kemudian, bolehlah orang-orang yang sejalan dengan pemikiran kita berkumpul, berdiskusi lebih dekat dan hangat, lantas wujudkan gerakan-gerakan yang berdampak. Saya kira, dengan begitu, kehadiran media sosial menjadi lebih berguna. Tidak sia-sia. []

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these