Banyak alasan ayahmu mencintai buku, Nak.
Satu, karena perintah agama (Islam). Memang banyak perintah agama seperti shalat, puasa, zakat dan seterusnya. Ayah tentu juga melakukannya. Tapi, kalau melihat bagaimana totalitas perintah agama itu dilakukan, barangkali perintah membaca (iqra) inilah yang ayah tekuni paling serius hingga kini. Itu sebabnya, ayahmu sangat mencintai buku.
Ayah selalu hormat kepada buku
Ayah selalu menaruh penghormatan yang tinggi pada buku
Itu saja, ayah? Tidak juga sih. Hanya, suatu waktu, ketika ayah sekolah, dari membaca buku, ayah bisa menghasilkan sebuah karya tulis, karangan yang dilombakan. Alhamdulillah menang. Bisa bertemu dengan Presiden Soeharto waktu itu. Hadiahnya, bisa untuk mentraktir beberapa kawan dekat ayah semasa sekolah.
Dari situ, ayah merasa, asyik juga ternyata membaca. Saat SMA, ayah lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Membaca banyak buku, juga majalah. Satu majalah yang paling ayah suka, Majalah Sastra Horison. Memang, lebih banyak terbitan lama. Dari situ, ayah jadi mengerti apa itu puisi, apa itu cerita pendek. Singkatnya, ayah merasa mengerti apa itu sastra dari sana.
Selepas sekolah, ayah menjadi semakin “gila” membaca. Terutama, buku sosial, politik dan filsafat. Dari situ, ayah menjadi bisa menulis di koran masa itu. Ada Kompas, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat. Honornya, untuk biaya hidup kuliah. Ayah juga menulis opini dan berita di website kampus. Honornya dulu 300 ribu/bulan. Sementara, biaya kuliah hanya 250 ribu/semester. Dari uang itu dan uang honor menulis di berbagai, media, ayah belikan banyak buku. Jadi, sejak kuliah, ayah sudah punya ratusan buku.
Singkat cerita, waktu berlalu. Di rumah, menjadi ada banyak buku. Karena ayah koleksi pelan-pelan dalam jangka waktu yang lama. Tempo hari, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) datang. Menghadiahi 1000 buku untuk perpustakaan kecil kita. Tentu, itu perlu disyukuri. Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan kalau harus membeli sendiri seribu buku itu. Kabar baiknya, mereka memberikan secara gratis saja. Untuk kita dan bacaan orang-orang sekitar.
Kini, terus terang. Ayah masih membaca. Walau tak semua jenis buku dibaca. Hanya pesan ayah. Betapapun banyak buku yang dibaca, hormat pada gurumu itu harus. Ketika guru dan dosenmu mengajar, dengarkan. Tak tolah-toleh, tak main HP. Dengar dan catat baik-baik. Kalau kau merasa kurang sependapat, sampaikan dengan penuh santun dan beradab.
Ayah membaca. Memang karena seperti di atas, karena perintah agama. Tapi, ada alasan lain juga. Umpamanya, kita lebih bisa dewasa dalam menjalani hidup, cakrawala dan khazanah pengetahuan bisa membantu urusan memutuskan beragam persoalan dengan bijaksana. Ini penting Nak.
Selain itu, diam-diam, ayahmu ini, dari membaca, pada akhirnya jadi bisa terus terus menulis buku-buku. Baik atas nama pribadi, maupun lebih banyak atas nama orang lain. Kalau ini, barangkali alasannya cukup pragmatis. Agar dapur kita tetap “ngebul” Nak. Selebihnya, ayah masih terus lakukan pekerjaan-pekerjaan kreatif yang kini tak hanya berbasis “teks”, tapi juga berbasis “Audio Visual (video)”.
Jadi, teruslah membaca Nak. Ini aktivitas hidup yang tak pernah sia-sia.
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)