Tafsir Absurditas Hidup: Bunuh Diri !

Hidup, perlu sesekali menyepi untuk menenangkan diri. Dan kembali bekerja lagi dengan energi  baru yang lebih produktif lagi. Kali ini, saya menyepi di Malioboro, Jogjakarta. Memang begitu riuh dan ramai di tempat ini. Tapi, saya menikmati kesendirian karena tak mengenal orang-orang yang lalu lalang.

Tak terasa sudah sekira sepuluh hari saya menyepi, menyendiri. Menyewa penginapan kecil di daerah Sosrowijayan. Penginapan langganan yang membiarkan saya memberi berapa saja ongkos sewa kepada pemiliknya. Saya sudah berkawan dengan pemilik penginapan itu sejak umur 20-an. Sampai kini saya sudah punya banyak anak.

Pemiliknya orang kebudayaan. Dulu, ketika saya mengenalkan diri sebagai penulis, sejak umur 20-an itu, dirinya langsung tertarik. Membiarkan saya menyendiri di kamar. Ke luar saat shalat dan makan saja. Saya bahkan dipinjamkan motor untuk beraktivitas ke mana suka. Kali ini, saya kembali ke sini. Menyepi, menyendiri lagi.

Sebagai penghayat eksitensialisme

Saya kembali merenungi hidup

Kembali mencoba menafsir absurditas hidup

Hidup, kata Albert Camus dalam buku “Filsafat Eksistensialisme” karangan Vincent Martin. Kita mengetahui banyak fakta tentang dunia. Kita bisa memberikan deskripsi yang indah mengenai bagian-bagiannya, tetapi tidak ada satu penjelasan pun yang sempurna. Begitulah hidup.  Masih ada perasaan tentang absurditas karena ada sesuatu yang tidak terjelaskan. Perasaan ini muncul karena manusia mencari pemahaman yang lengkap mengenai suatu dunia yang tak dipahaminya.

Hidup sendiri, menurut penuturan banyak kawan yang berprofesi apapun, kini kian sulit. Konon, satu hal yang paling menonjol adalah ketidakadilan. Orang-orang yang sedang berkuasa dengan seenaknya menerapkan kebijakan yang menyulitkan. Tanpa terkecuali, orang-orang yang bekerja di pemerintahan sendiri banyak yang merasa tercekik karena efisiensi, sementara, rakyat kebanyakan juga berjibaku menyelamatkan kehidupan, menyelamatkan hidupnya sendiri-sendiri.

Di sini, saya juga berusaha melongok diri.  Saya generasi milenial, artinya umur sudah 40 +. Saya hidup di zaman Soeharto sampai Jokowi. Apakah pemerintahan itu beres? Tidak juga. Tidak baik-baik saja. Kini, di zaman Prabowo, tentu sikap baru harus ditumbuhkan. Saya pribadi mulai hidup dengan adaptasi. Mulai mau menerima keadaan-keadaan di luar harapan.

Kalau hidup terasa absurd. Albert Camus memang punya jalan keluarnya. Sebagai seorang  filsuf ateis, dia berikan solusinya. Apa itu? BUNUH DIRI.

Tapi sebentar,  Camus mengakui ada dua macam bunuh diri. Yaitu bunuh diri fisik dan bunuh diri filsafat. Camus melihat, bunuh diri fisik adalah mengakhiri kehidupan seseorang sebagaimana yang diakui orang bahwa hidupnya sudah terlalu susah. Bahwa hidupnya sudah tidak lagi berharga. Menyadari tidak adanya alasan untuk hidup, melihat kebodohan hidup sehari-hari dan yakin itu benar-benar penderitaan yang gagal, orang lantas memutuskan penyelesaian absurditas ini dengan mengakhiri hidupnya.

Tipe bunuh diri yang kedua adalah bunuh diri filsafat;. Bagi Camus, seorang filsuf sangat sadar tentang absurditas dan ketidakrasionalan eksistensi, tetapi kemudian karena ada beberapa simpul pikiran, beberapa putaran keinginan dan perubahan imajinasi, ia menemukan makna dan rasionalitas dalam dunia ini. Dengan begitu, ia tidak lari dari absurditas, tetapi selalu menjaganya dalam kesadaran.

Dari sini, saya tentu memilih jalan sebagai orang beriman. Bunuh diri fisik tidak menarik karena lari dari “tanggungjawab hidup”. Justru, bunuh diri filsafat menarik. Karena ia tidak lari dari absurditas hidup. Tapi, mendudukkannya dengan matang. Kemudian, justru bisa menciptakan dunia kita sendiri yang mungkin berbeda dengan dunia orang kebanyakan.

Eksistensialisme memang menawarkan kebebasan. Saya kira, kita hanya tinggal menggeser sedikit. Umpamanya dengan sebut  saja “Eksistensialisme teistik”, Siapa tahu ada yang kemudian berbeda. Di mana, ia menekankan kebebasan dan tanggung jawab individu dalam menciptakan makna hidup, namun tetap mengakui keberadaan Tuhan sebagai landasan eksistensi manusia

Alhasil dengan begini, setidaknya hidup saya menjadi sedikit lebih tenang. Apa dampaknya kalau hidup tenang? Sudah pasti, energi produktifitas akan menyala, akan membara. Baiklah, saya juga sudah lumayan kangen rumah.  Sepuluh hari ini, saya sudah banyak membaca dokumen, mewawancarai banyak orang, mengumpulkan dokumentasi foto dan video yang lumayan banyak.  Tinggal “disulap” menjadi karya. Ya, pada akhirnya memang, saya berkarya maka saya ada. []

Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok.

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these