Pondok pesantren itu kecil saja.
Tapi, menyimpan kenangan yang tak biasa.
“Setidaknya, kita berhak ikut rayakan hari santri 22 Oktober ya bro”
“He he, iya, walau mondok cuman sebentar saja”
Percakapan di kedai kopi Cilandak Citos itu kembali mengingatkan kenangan bersama beberapa tahun silam. Saat kami sama-sama mondok di sebuah pesantren kecil. Namanya, Pondok Pesantren Al-Ichsan, Wates, Kebonpolo, Kota Magelang. Sebuah pondok pelajar. Santrinya, tak sampai seratus orang waktu itu. Tapi, justru itu yang membuat kami semua kenal dekat dan masing-masing punya kenangan tersendiri.
Pengasuhnya, seorang pegawai Departemen Agama dan petinggi NU Kota dibantu oleh putra-putranya. Kami boleh dibilang “Santri Tapi Bukan”. Memang, sebutan santri adalah mereka yang pernah mondok. Hasilnya, bahasa Arab pasti bisa plus bisa baca kitab kuning. Kalau tak bisa itu, ya jangan ngaku-ngaku santri. Itu semacam pakem yang kami yakini.
Biasanya, setidaknya seorang santri butuh waktu 6-7 tahun untuk bisa menghasilkan kapasitas begitu, santri “Full Time”. Tapi, pondok kami pondok pelajar. Hanya 3 tahun saja kami mondok, itupun secara “Part Time”. Di sela-sela saya dan salah satu teman saya itu belajar di sekolah umum. Jadi, tak punya kapasitas begitu.
Saya sendiri, mondok awalnya karena kepentok.
Rumah saya di kampung, sekolah SMA diterima di Kota. Perjalanan sekolah, harus jalan kaki dulu, nyambung naik angkot sampai ke Blabak, dari sana naik bus Ramayana jurusan Jogja-Semarang, turun terminal Kota Magelang, nyambung lagi angkot nomor 4 atau 9 untuk sampai sekolah, Begarlist High School yang berbatasan dengan markas tentara Rindam.
Tiap hari harus berangkat, sekira selepas subuh. Capek sih tak terlalu. Tapi di sekolah bawaannya ngantuk melulu. Kepikiran ngekost. Tapi, seorang teman ajak masuk saja ke pondok. Wah boleh juga. Singkat cerita, kami jadi semacam “santri-santrian”. Pagi ngaji sampai jam 6. Siangnya sekolah umum. Sore sampai malem jam 8 ngaji lagi di pondok. Begitu rutinitas selama SMA.
Hari pertama mondok, sehabis maghrib anak-anak tilawah. Dengar tilawah bersaut-sautan itu, saat di kamar, saya terharu. Itulah pertama kali saya menangis denger ayat Al-Quran dikumandangkan. Tapi, saya hapus air mata cepat-cepat, menyusul mereka. Maklum, saat itu saya belum lancar baca Al-Quran karena sebelumnya kebanyakan sekolah di Yayasan Katholik, Kanisius.
Selanjutnya, dunia pondok kami akrabi. Kami masak dan makan bersama, mandi bareng hanya pakai sarung, ngaji bareng, termasuk “nakal bareng”. Bagi kami, merokok di pondok sudah biasa, walau tak kami lakukan di sekolah umum, ngerjain anak-anak yang lagi pendidikan tentara (seumuran kita dulu) dengan lempar pasir pas mereka lari pagi saat masih gelap, macarin anak tetangga pondok, dihukum karena ketauan nonton bioskop menjadi cerita tak terlupakan.
Memang, walaupun pondok NU, tapi waktu saya jadi “Lurah” Pondok, saya bikin kaos seragam bertuliskan “The Muslim Brotherhood” yang kami maksudkan sebagai “Ikhwanul Muslimin”. Jadi, kami, terutama saya sendiri mengklaim diri sebagai anggota Ikhwanul Muslimin, cabang Indonesia saat SMA. Salah satu pengasuh pondok tahu maksud demikian, tapi dibiarkan saja.
Di luar sekolah kami santri pondok NU, tapi di sekolah kami anak Rohis yang diasuh kakak-kakak mahasiswa UGM yang ngelaju demi membersamai ngaji melingkar bersama setiap akhir pekan. Saat SMA itu pula, saya ikut training Batra Pelajar Islam Indonesia (PII) yang bikin pikiran dan laku militan. Jadi, warna Islam kami semasa SMA warna NU dan warna Tarbiyah.
Di pondok, kami belajar ngaji dan benar-benar ngaji Al-Quran, bukan politik ala Tarbiyah. Di pondok pula kami belajar hidup secara sederhana, mencintai ilmu, adab dan akrab dengan kitab-kitab. Sementara, kakak pengasuh Tarbiyah (Beliau kuliah Teknik Kimia UGM 9 tahun, kini jadi anggota dewan PKS), mengantarkan kami anak-anak Rohis SMA melek politik dan dunia Islam. Kabar baik, berkat asuhan beliau pula, sekira 10 orang anggota inti Rohis semuanya masuk perguruan (kampus) negeri waktu itu. Di mana kampus negeri adalah harga mati waktu itu. Hanya sekali tes, sekali gagal harus ngulang tahun berikutnya.
Saat mondok, saya memang belum punya karya. Tapi, berkat sentuhan Tarbiyah, saya berhasil membuat karya tulis sebagai syarat kelulusan sekolah. Judul karya tulisnya “Manhaj Dakwah Hasan Al-Banna, sebagai Ibroh dan Kajian Historis Dakwah Masa Kini”. Itulah sedikit kenangan ketika nyantri di pondok NU dan ngaji Tarbiyah di Rohis sekolah. NU dan Tarbiyah (PKS) konon memang susah disatukan. Tapi, alhamdulilah kami berhasil membaurkannya. (Yons Achmad/Kolumnis, tinggal di Depok)