Penghiburan Dari Tuhan

Seorang guru sekaligus mentor (politik) saya pernah bercerita pada pertemuan sebuah senja. Kisahnya, tentang seorang khadimat (pelayan) yang bangun di tengah malam dan berdoa. “Kabulkanlah doa saya Ya Allah karena cintaMu kepadaku”.

Tak sengaja, sang pemilik rumah mendengar doa itu. Dirinya bertanya dalam hati, kenapa tak berdoa “Kabulkanlah doaku ya Ya Allah karena aku mencintaiMu”.

Sang pemilik rumah pun merenung. Benar juga, bukankah semuanya ini karena cintaNya, bukan cinta kita, cinta manusia.

Perenungan berlanjut. Kali ini tentang begitu banyak penghiburan dari Tuhan, dari Allah Swt yang diam-diam kadang luput dari kesadaran. Umpamanya, ketika kita mendapatkan beragam nikmat dari Tuhan. Satu hal yang terasakan adalah kita hidup bersama “NikmatNya”.

Tapi, bayangkan ketika hati sedang sedih, dalam kesepian, kesendirian, kesakitan, kebangkrutan, terzalimi. Kita hidup bukan bersama “Nikmatnya”. Tapi, di saat itulah kita hidup justru “DenganNya”

Secuil kisah sufistik ini lumayan menarik.
Saya sendiri menangkapnya sebagai sebuah
Perenungan eksistensial dalam kehidupan.

Ternyata, banyak penghiburan dari Tuhan yang memang luput dari kesadaran. Ketika hidup dalam fase bersama “NikmatNya”, teramat banyak yang lupa. Sementara, justru dalam fase kehidupan “DenganNya”, di saat itulah karya-karya besar lahir, dilahirkan.

Umpamanya, sebuah kisah bagaimana seorang ulama besar Indonesia, saat dipenjara, Buya Hamka menulis karyanya yang monumental, Tafsir Al-Azhar, sebagai hikmah dari penahanannya selama sekitar 2 tahun 4 bulan antara tahun 1964-1966. Ia memanfaatkan waktu di penjara untuk merampungkan karya tersebut, yang menjadi bukti produktivitasnya di tengah kesulitan.

Lain kisah. Sayyid Qutb, seorang ulama Ikhwan Mesir, menulis banyak karya penting saat dipenjara, termasuk karyanya yang monumental, Tafsir fi Zilal al-Quran dan Ma’alim fi al-Tariq, yang diselesaikan antara tahun 1954 hingga 1966 sebelum eksekusinya pada tahun 1966. Tafsir fi Zilal al-Quran: Karya tafsir ini sebagian besar diselesaikan dalam penjara dan bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara umat Islam modern dan Al-Qur’an. Ma’alim fi al-Tariq sebagai “Petunjuk Jalan”, karya ini juga diselesaikan di penjara yang isinya “ruh”nya, begitu melekat dan bisa begitu memikat hati pembacanya.

Dari kisah itu saya belajar

Saat dalam fase hidup bersama “NikmatNya”, jalan paling memungkinkan adalah banyak “Berbagi”.
Sementara, dalam fase hidup “DenganNya,” justru di saat ini menjadi momentum tepat untuk sepenuh hati mencurahkan diri untuk “Berkarya”.

(Yons Achmad, kolumnis tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these