Masalah “Bergizi” Gas (MBG)

Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pejabat asal ngomong, sering lontarkan ucapan-ucapan yang kontroversial, sembarangan, nir empati. Semuanya itu kini secara mudah tersiar lewat media sosial, media-media online. Membuat banyak orang kesal, bikin banyak orang marah. Lalu menjadi kehebohan yang sebenarnya tidak perlu.

Apakah itu masalah ? Tentu. Ada setidaknya tiga sikap yang bisa meresponnya.

Menghakimi

Mengamati

Mencari solusi

Menghakimi. Ini semua orang bisa. Netizen di manapun berada bisa berkomentar semaunya. Sah-sah aja. Mau bagaimana? Seperti celutakan Aldi Taher, biarkan saja, namanya orang punya kuota. Selanjutnya, mengamati. Mereka diam-diam mencermati, mengamati berita dan info di beragam platform media sosial. Sebatas itu. Memang ada yang serius amati lalu buat konten-konten terkait isu yang berkembang. Terlepas jenis kontennya, dia sudah lumayan sikapi isu dengan hasilnya karya.

Sebagai praktisi yang punya kiprah turut serta bantu para tokoh publik, tentu kita berbeda memandangnya. Saya dan tim, kami tentu memandang setiap masalah, setiap persoalan, kehebahan di media sosial sebagai berkah, sebagai semacam peluang.

Dalam sebuah tim, kami tentu tidak ikut-ikutan sebarangan menghakimi orang. Yang kami lakukan mulai mengamati, mencermati, menemukan polanya. Lalu, mencoba merangkainya dalam beragam narasi dan konten yang mencerahkan publik.

Seterusnya, kalau memang kita cukup punya akses ke pihak terkait, turut serta membantu upaya arus komunikasi yang baik antara tokoh publik dengan beragam pihak. Termasuk umpamanya membantu komunikasi krisis lembaga atau kebijakan publik.

Begitulah kami punya kiprah di sini.

Maka, izinkan kami berujar “Masalah ‘Bergizi” Gas” (MBG). Ketika ada masalah, kami tak sekadar ikut-ikutan menghakimi. Tapi sekali lagi, mengamati, menganalisis, mencari solusi sampai menemukan bagaimana narasi harus menjadi bagian terdepan sebagai jembatan. Agar suasanya kembali menjadi baik-baik saja.

Mungkin, terlihat sederhana. Tapi praktiknya, membutuhkan pengetahuan, skills, perencanaan serta eksekusi yang matang. Apa boleh buat. Ini pekerjaan yang cukup menantang. Tapi, bismillah kami berkiprah dan berdiri di sini []

Yons Achmad.

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these