Ramadhan kemarin, seorang kawan, Tubagus Dudy, ajak buka bersama bareng Ustaz Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah). Saya hadir. Setelah selesai acara, saya memberanikan diri meminta nomor kontak beliau. Alhamdulillah berkenan. Sejak itu, saya lumayan rutin berkabar lewat WA. Beliau ternyata, di tengah kesibukannya, tetap membalas pesan-pesan saya yang bukan siapa-siapa ini.
Di bulan haji ini, saya memberanikan diri untuk izin sowan ke rumah beliau. Setidaknya, ada tiga agenda yang ingin coba saya obrolkan. (1) Perlunya media online keumatan yang representatif (2) Pentingnya Dewan Dakwah Depok segera punya semacam markaz atau “Rumah Dakwah” (3) Inisiatif pribadi saya ingin menulis buku berjudul “Warisan Pemikiran Doktor Adian Husaini”.
Ngobrol sekira 1,5 jam. Saya menata betul agar ketiga agenda itu bisa terbahas semuanya. Pelan namun pasti, semuanya terbahas walau sepertinya perlu elaborasi lebih mendalam lagi. Perlu pertemuan dan pembicaraan susulan lebih intens lagi. Tapi, setidaknya, ada beberapa hal yang perlu saya bagikan:
Pertama, media keumatan. Beliau sangat setuju umat ini punya media yang representatif, menjadi rujukan. Dulu, terlepas dari plus minusnya, ada koran “Republika” yang cukup lumayan berkontribusi menjadi rujukan umat. Tapi, sepertinya, hari ini tidak lagi. Di tengah persaingan dan bisnis media yang kompetitif, beliau setuju jurnalisme tetap menjadi pegangan. Tapi, era AI sekarang ini, beliau sarankan industri media kudu bisa “Beyond AI”. Artinya, tetap bisa memakai AI untuk kemudahan dan kecepatan, tapi produk karya yang dihasilkan kudu bisa “Melampaui AI”. Ini tentu sebuah tantangan tersendiri.
Kedua, Soal Rumah Dakwah. Dalam setiap organisasi, semacam markas itu diperlukan. Selain sebagai bukti eksistensi lembaga, juga bisa menjadi ruang leluasa di mana beragam ide-ide bisa diobrolkan dan menjadi program aksi-aksi nyata. Sekretariat permanen, tentu menjadi sesuatu yang perlu diwujudkan secepatnya. Satu-satunya jalan untuk bisa mewujudkannya adalah dengan mengomunikasikan kolaborasi dengan beragam pihak. Baik internal maupun eksternal. Artinya, kunci keberhasilan mewujudkan hal ini “Komunikasikan Program” lewat beragam media dan platform yang ada.
Ketiga, soal buku “Warisan Pemikiran”. Menurut beliau, salah satu warisan pemikiran sudah disebar melalui beragam tulisan dan kolom-kolom beliau. Tapi, memang belum banyak tersosialisasikan lewat visual yang menarik. Podcast juga sudah dijalankan. Hanya, masih membutuhkan tim yang serius dan total fokus urusan ini.
Saya cukup puas bertemu beliau. Tradisi langsung bertemu dengan sosok “Tokoh Intelektual” ini bagi saya bakal terus terawat. Ilmu, tokoh berilmu memang harus didatangi, disowani. Asyiknya memang, setiap bertemu dengan tokoh-tokoh yang luar biasa seperti Ustaz Adian ini bisa “Dipodcastkan”. Bismillah. Semoga bisa terwujud pada pertemuan-pertemuan dengan tokoh berikutnya.
Yons Achmad.