Disadari atau tidak, kenikmatan selalu menyertai kita. Kita hanya perlu sedikit sadar untuk bisa merasakannya. Pernyataan ini, mungkin tampak sebagai pernyataan umum saja. Selepas bangun pagi, setelah ucap syukur, melangkah menuju dispenser. Mengambil secangkir air putih. Tak langsung menenggaknya, tapi seteguk demi seteguk kita rasakan air membasahi kerongkongan saat dalam kondisi sehat, itu sudah lebih dari cukup. Merasakan bagaimana kenikmatan itu melekat di badan. Dengan penuh kesadaran kita rasakan.
Ritual itu, semacam latihan untuk membaca sinyal-sinyal terang.
Kita. Bisa jadi sangat begitu kecewa dengan negara, tepatnya, pemerintahnya. Emosi, sering tertumpah begitu saja saat melihat kondisi, menyaksikan perilaku para pejabat yang sembrono dan korup. Setiap hari terbakar dan terpapar berita konyol di media sosial. Di situ kita merasa terbakar habis (burnt out). Setop.
Kita fokus pada sinyal-sinyal terang saja.
Syaratnya memang tak mudah, mungkin kita hanya tamat S1 atau bahkan SMA, tapi goblok jangan. Mohon maaf kalau tidak sepakat memakai kata goblok. Biarkan ini menjadi kata yang langsung menukik ke jantung, bukan ditujukan untuk menghakimi orang, tapi sekadar mengingatkan diri agar tak menjadi begitu. Satu hal untuk menghindarkan diri dari kegoblokan, tak lain tak bukan dengan membaca.
“Apa dengan membaca, ada perubahan dalam hidup,” Itu pertanyaan mengusik yang dilontarkan pasangan hidup saya. Lumayan kaget juga dengar pertanyaan demikian. Iya, saya juga baru nyadar, jangan-jangan memang tak ada perubahan? Lalu saya katakan, membaca, bagaimanapun juga mengubah cara pandang kita, berikan wawasan untuk bisa memandang dalam perspektif yang lebih kuat.
Apakah itu bisa mengubah perilaku? Ini yang menarik. Jujur saya katakan belum. Buku-buku, sebelumnya saya baca secara random sebatas untuk pengetahuan dan referensi buat karya saja. Tapi, beberapa tahun belakangan, saya menggesernya. Untuk kebutuhan pribadi, saya kemudian lebih banyak membaca buku yang memang benar-benar bermutu, untuk saya amalkan dalam kehidupan.
Sekadar rutunitas, setiap bulan saya alokasikan waktu untuk baca buku bermutu. Setiap hari, saya baca koran Kompas cetak versi PDF secara berlangganan, juga “The Jakarta Post”. Untuk bisnis, belakangan saya rutin membaca ulasan-ulasan di “Harvard Business Review”. Semua saya lakukan, demi usaha bisa membaca “Sinyal-Sinyal Terang”.
Itu sebabnya, saya membaca “The Psychology of Money” Morgan Housel atau mungkin nanti “Marketing 6.0” karya Philip Kotler dan Hermawan Kertajaya, yang berikan pencerahan, bisa jadi problem kita memang bukan pada produknya, tapi bagaimana memasarkannya. Buku-buku semacam itu sebelumnya jarang saya sentuh. Tapi kini saya akrab dengannya. Memang, membaca riset-riset terbaru, prediksi-prediksi masa depan para pakar, diperlukan juga.
Semuanya itu, menjadi bekal untuk bisa membaca sinyal-sinyal terang. Dan tentu saja peluang yang bisa kita masuki. Kita berkiprah di sana, berikan manfaat. Selebihnya, biarkan Tuhan yang berikan balasan niat baik dan amal terbaik hambanya. []
(Yons Achmad. Praktisi Branding. Pendiri Brandstory.id)