Puasa Momentum Kedalaman

Lihatlah sekitar. Ada penceramah agama yang suka ceramah panjang lebar, lama, tapi kurang ada isinya. Ada politikus yang rajin pidato tapi sangat miskin konsep dan gagagasan. Lebih banyak menyindir dan menyalahkan publik. Ada artis yang bicara nyerocos saja, tapi kosong tanpa kejelasan isi pembicaraan. Atau kita sendiri yang membaca, menonton bukan untuk memahami dan mendengar, tapi sebatas untuk bisa membalas (replay). Komentar yang terlontar juga seringkali sangat subyektif.

Kenapa muncul fenomena itu? Salah satunya, ketiadaan kedalaman.

Kurang ada kedalaman ilmu, tidak cukup kuat dalam cara berpikir. Hasilnya, orang bisa bicara apa saja dengan beragam Teknik “Public Speaking” yang memukau, tapi sangat miskin wawasan. Ibarat buih (di lautan). Terlihat banyak bicara, tapi argumen-argumennya lemah, sering salah logika dan cepat mengambil kesimpulan. Hasilnya keliru. Atau kalau tidak, hasilnya terlihat murahan.

Untuk menjawab problem demikian, sebagian orang sadar. Kita membutuhkan kedalaman. Harapannya, akan hadir pembicaraan-pembicaraan yang bermutu, kaya wawasan, kaya beragam referensi dan data yang mendukung. Untuk sampai ke sini, memang membutuhkan waktu, kesabaran dan ketelatenan. Sementara, godaan cepat terkenal, viral, menguras emosi, memenuhi selera pasar, begitu di depan mata.

Kalau sudah begini bagaimana? Saya sendiri selalu percaya. Umpamanya sebuah karya yang bagus. Entah itu musik, film, karya tulis, produk kesenian dan kebudayaan juga beragam inovasi teknologi. Jika dikerjakan dengan cinta, sepenuh hati, dengan keseriusan yang berarti, dengan ketulusan dalam pengerjaan di dalamnya, percayalah, karya bakal menjadi lebih bermutu. Sementara, laku di pasaran atau tidak, itu perkara lain (marketing).

Puasa, saya kira menjadi momentum atasi gejala global semacam ini. Bulan puasa, hadirkan keheningan. Saya kira, momentum demikian menjadi ruang terpenting untuk proses lahirnya sebuah karya yang bermutu. Ditambah lagi, biasanya, intensitas manusia (seorang muslim) terhadap interaksinya dengan Al-Quran (Kitab Suci) lebih banyak. Inspirasi-inspirasi bakal lahir dari sana.

Maka, puasa sebenarnya momentum keheningan untuk meraih kedalaman. Bukan merayakan dengan kemeriahan. Puasa, menjadi momentum kontemplasi tahunan, menjadi wadah untuk merenung. Puasa adalah momentum “interaksi” yang sangat pribadi dengan Allah (Tuhan umat Islam), bukan perayaan keramaian.

Ia, siklus hidup setahun sekali. Allah memberikan waktu khusus untuk bertafakur, beritikaf, berkontemplasi. Memperbanyak interaksi dengan Al-Quran. Di situlah kedalaman akan didapatkan. Hasilnya, hidup manusia menjadi lebih baik, sementara, laku dan karyanya juga berpotensi menjadi semakin bermutu. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok).

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these