Dulu saya membaca buku untuk “sekadar” menambah pengetahuan. Sekarang saya lebih banyak membaca buku-buku bermutu untuk saya amalkan. Tahun 2025 saya membeli buku “The Psychology of Money” karya Morgan Housel. Tapi, buku itu tergeletak begitu saja sekian lama di rak buku. Saya merasa belum siap membacanya. Pada malam tahun baru saya tuntas membaca buku itu.
Kini, di awal tahun baru 2026, izinkan saya berbagi isi bukunya. Memang, satu tekad saya pada hari pertama awal tahun adalah berbagi, mengapresiasi serta menyenangkan orang. Hal ini saya mulai dengan bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk keluarga, membuka media sosial untuk mengapresiasi keberhasilan (capaian) beberapa teman, mengawali hari dengan senyum, bukan amarah. Saya semata-mata hanya ingin satu hal, mengawali tahun baru dengan sesuatu yang baik. Itu saja.
Kembali ke soal buku. Awalnya buku itu diperkenalkan secara memukau oleh seorang Ustaz dari sekolah Kuttab Al-Fatih. “Antum harus membaca buku ini,” katanya sambil menunjukkan sebuah slide presentasi bergambar buku yang dimaksud. Setelah sekian lama bersabar, akhirnya saya bisa mendapatkan buku itu, membacanya pelan-pelan dan mendapatkan pengalaman (pengetahuan) baru. Mungkin, agak berbeda dengan cerita mereka yang telah membacanya.
Tapi, bolehlah saya berbagi kesan pembacaan versi saya sendiri.
Sebuah kesan yang kali ini justru saya dapatkan di akhir tulisan. Ya, sama dengan saat kajian. Kita harus duduk, tuntas menyimak. Dari awal, tengah sampai akhir. Kenapa? Karena kita tidak tahu point utama kajiannya muncul di awal, tengah atau akhir. Maka, jangan telat datang, tidak tidur di tengah kajian, atau pulang duluan. Sekali lagi, karena kita tak tahu “Ilmu Daging” itu ada dan kita temukan di bagian mana.
Maka, inilah kesan saya setelah membaca buku soal psikologi keuangan ini.
Pertama. Mandiri, bukan kaya. Mungkin ada yang punya niat awal baca buku ini biar ketularan kaya seperti contoh sosok-sosok yang dipaparkan. Tapi, pada akhirnya kita punya versi tersendiri. Istilahnya, punya psikologi uang versi sendiri. Dalam bahasa sang penulis buku ini, dikatakan bahwa kita bisa kesampingkan soal kaya, tapi kemandirian selalu menjadi tujuan keuangan pribadi kita. Ini pembacaan awal yang saya sepakat dengan konsep demikian. Buku ini bukan soal kekayaan, tapi soal kemandirian finansial.
Kedua, konsep kemandirian yang benar. Artinya, kemandirian bukan berarti berhenti bekerja. Bermakna pula, kemandirian pada awalnya tampak sebagai puncak segala tujuan keuangan. Bukan begitu. Ia, sekali lagi bukan berhenti bekerja, tapi bisa melakukan pekerjaan yang kita suka, dengan orang yang kita suka, pada waktu yang kita inginkan selama kita mau. Singkat kata, “Kemandirian” sejati boleh juga diartikan ke luar dari “balap tikus”, ikut standar orang-orang kebanyakan, bukan. Ia semata-mata untuk bisa mengatur kegiatan sendiri demi kedamaian jiwa.
Ketiga, Keputusan bagus tak selalu rasional. Dalam soal keuangan, kadang kita diminta untuk rasional. Tapi, kadang keputusan bagus tak selalu begitu. DI satu titik, harus memilih antara menjadi bahagia atau “benar”. Penjelasan mudahnya, dalam hidup, termasuk dalam soal keuangan. Soal menabung misalnya, “pakar” keuangan sering menyarankan dan kita sering ditanya, kalian menabung untuk apa? Rumah? Mobil Baru? dan kita sering mengiyakan. Boleh saja. Tapi, ternyata bukan untuk semua itu. Menabung, sejatinya untuk menghadapi dunia yang lebih sering memberikan “kejutan” daripada yang kita harap. Tanpa tabungan, hidup bisa jadi pemicu “Stres berat” di saat kejutan tak menyenangkan datang. Saya tentu mengamini sepenuhnya “fatwa” untuk menabung itu, seberapapun jumlahnya.
Sementara, tiga itu saja, walaupun sebenarnya masih banyak yang saya dapatkan dari membaca buku itu.
Sementara, ada banyak orang yang memilih untuk harus kaya, ada lagi yang bersikukuh hidup tak harus kaya. Saya tak mau terlibat perdebatan. Tapi, saya kira, semua setuju kalau hidup, bagaimanapun juga, harus bisa hadirkan “Kemandirian Finansial” dalam hidup ini. Caranya? Tentu macam-macam, layaknya kehidupan dalam soal melihat peluang. Kita semua berpikir mengenai peluang secara berbeda-beda.
Pada akhirnya, saya akan menutup cerita ini dengan mengatakan bahwa saya tak masalah tidak menjadi orang yang super kaya raya. Tapi, setidaknya, di awal tahun ini, saya tidak boleh lagi menjadi orang yang buruk pengetahuan dalam soal “Kemandirian Finansial”. Yo..yo…yo. Selamat berjuang dan merayakan “Kemandirian Finansial” versi kita sendiri. Ahai. []
Yons Achmad. (Praktisi Komunikasi, Pendiri Brandstory.id)