Ayah Kuat

Senja yang tenang. Di Depok Town Square (Detos), saya duduk berdua saja dengan istri, Dzelvi Ermawe, pada sebuah restoran ala Jepang. “Kayaknya kita harus lebih sering duduk berdua gini dech yah,”katanya dengan lembut. Ngobrol tentang bagaimana lanjutkan visi bersama yang disusun sebelum menikah dulu. Ngobrol tentang bagaimana anak-anak nanti akan diarahkan. Ngobrol tentang bagaimana kontribusi terbaik apa selama di dunia. Menarik. Tapi, ada yang terkesan, sebuah pertanyaan tersirat.

“Apakah selama ini ayah bahagia?”

Agak kaget. Saya terdiam sejenak, cari jawaban yang pas. Sampai saya sepakat guyonan serius ala Bapack-bapack. “Kita sebagai penulis, pekerja kreatif, ya lumayan bahagialah, ujian cuman satu, EKONOMI DOANG,” kita tertawa bareng. Betul sih, sejauh ini saya merasa ya hidup baik-baik saja. Saya hidup mengalir saja. Tidak aneh-aneh. Hidup, seperti kata penyair WS Rendra “Suka Duka bukanlah istimewa, karena setiap manusia mengalaminya”.

Dia bertanya lagi. Masalah para ayah apa sih? Ya saya jawab saja.

Masalah nafkah keluarga

Masalah karier dan bisnis terbaik

Masalah dengan keluarga dan mertua

Masalah kontribusi terbaik

Masalah legacy apa yang akan ditinggalkan

Masalah dengan orang di masa lalu he he

Kira-kira ya seputar itulah. Lalu kita diingatkan oleh sebuah video singkat. Seorang guru, Ustaz Budi Ashari, Lc. Seorang tokoh, pendiri Sekolah Kuttab Al-Fatih dan Pondok Pesantren Al-Fatih, tempat anak-anak kami mengenyam pendidikan. Pesan singkatnya, keluarga akan beres kuncinya ayahnya beres. Ya, beres dalam segala hal. Kalau ayah bermasalah, semua dipastikan bakal bermasalah. Pesan ini, tentu mudah dipahami para ayah, tapi praktik dalam kehidupan memang tak mudah.

“Coba dech ayah bikin komunitas para ayah. Berbagi cerita bersama menjadi ayah yang kuat,” saran spontannya. Boleh juga ide ini. Kadang bahkan sering saya juga banyak terima ide darinya. Termasuk nama perusahaan “Brandstory” juga dari dirinya. Baiklah. Tanpa panjang kalam, kita dirikan sebuah komunitas @ayahkuat_id. Sementara memakai platform Instagram. Sebuah komunitas berbagi. Saling menguatkan menjadi ayah yang mandiri dan berdaya.

Pulang dari hangout senja itu, hati saya berbinar cerah. Sebuah ide kebaikan, tak ada salahnya dipraktikkan. Karena kita tidak pernah tahu. Berapa banyak dan mana ide-ide kebaikan yang pada akhirnya bisa terwujudkan. Sementara, berapa banyak ide kebaikan yang akhirnya mengendap dan tenggelam karena tak pernah dikomunikasikan.

Nah, saya menulis sedikit cerita di atas, setidaknya, bentuk rasa syukur. Kenapa? Karena kita percaya, setiap ide kebaikan datangnya dari Allah SWT. Tak boleh kita sia-siakan. Lebih-lebih lagi, secara pribadi saya punya ayah “Luar Biasa” yang juga punya segudang cerita. Singkat cerita, ayo kita kumpul perdana. Hidupkan komunitas @ayahkuat_id. Agar terus bisa menjadi ayah yang kuat, ayah yang mandiri, ayah yang berdaya. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these