Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi

Ketua BEM Fakultas Hukum (FH) Universitas Bung Karno (UBK), M Abdimaludin, mengaku menerima uang Rp 20 juta yang disebut diberikan untuk mengubah lokasi demonstrasi mahasiswa dari kawasan Istana Kepresidenan ke Gedung DPR RI. Atas pengakuan itu, pihak kampus menonaktifkan Abdimaludin dari jabatannya dan membuka investigasi internal. Uang diterima, tapi aksi tetap di istana. Sungguh, kibal kibulan politik yang menarik.

Kali ini, saya tak akan menghakimi. Tapi, akan mengaitkan dengan sebuah cerita pendek karya Kuntowijoyo yang berjudul “Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi”. Di mana, suap menyuap dan tipu menipu politik terjadi. Kadang, yang coba menipu malah ketipu juga.

Dalam cerita itu, saya tertarik pada manuver “Sang Broker Politik” yang berhasil ngerjain Tarjo (37) pengusaha konveksi yang nyalon jadi “Lurah” lawan mantan Kapten TNI. Si Tarjo dikerjain camat, ditakut-takutin tak bakal lolos jadi calon ‘Lurah” karena tersangkut “PKI”, akhirnya suap camat dan bisa lolos calon “Lurah”. Dikerjain lagi oleh “Sang Broker Politik” dijanjikan menang, tapi ternyata keok. Diduga, “Sang Broker Politik” main dua kaki. Setelah keok, “Sang Broker Politik” malah minta proyek lagi bikin “EO” kumpulin warga, makan-makan. Tapi, tak ada yang datang.

Tak dapat sembunyikan kekecewaan, Tarjo temui “Sang Broker Politik”

“Bagaimana ini Pak. Jadinya kok malah runyam begitu”

“Ya itulah politik. Sekali menang, sekali kalah. Sekali timbul sekali tenggelam. Hadapi ritme ini dengan humor tinggi”

Tarjo tak kunjung mengerti. Kepalanya menggelang “Ck..ck,” kata mulutnya, kemudian melongo.

Kisah Sang Ketua BEM saya kira kirip begitu. Bagaimana tipu menipu itu terjadi. Sang Ketua BEM temui Gibran. Ngaku dapat 20 juta dari seniornya. Saya membayangkan Sang Ketua BEM itu “Dijual” oleh seniornya. Terima uang yang konon dari “Seseorang”. Sang Ketua BEM cukup kasih Rp. 20 juta saja, selebihnya masuk kantong sendiri. “Seseorang” itu juga jual ke “Atasan” lapor mahasiswa sudah “Dikendalikan”. Lapor demo sudah “Dialihkan” ke DPR. Sayangnya, demo tetap terjadi di istana. Akhirnya, semua “Nyanyi”

Sambil menyeruput teh tanpa gula, saya hanya menikmati saja tipu menipu, jual menjual Gerakan begitu. Saya sekali lagi tak mau menghakimi. Belum selesai menyesap teh, ada kabar emak-emak, anak-anak bikin demo dukung MBG di Depok. Alamaaak. Kata orang Jawa ‘Wis Embuh” “Ora Karuan”. Demo bayaran? Entahlah.

Selesai ngeteh. Saya berguman pelan. Membayangkan anak-anak di rumah. “Nak, ayahmu hidup di zaman begini. Doakan tetap waras dan bisa menafkahi kamu dan ibumu dengan halal dan toyib”. Senja mulai menghilang. Rapikan semua, masukkan ke tas ransel. Pulang. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these