Hujan Bulan Juni: Sebuah Tafsir Puisi Sapardi Djoko Damono

Untuk mencari inspirasi, kadang saya suka lakukan begini. Saya naik kereta jurusan Bogor dari Stasiun Depok Baru. Sampai Bogor tetap duduk, lalu kereta melaju ke Stasiun Jakarta Kota. Perjalanan dari ujung ke ujung yang lumayan panjang. Balik lagi ke Stasiun Depok Baru. Pulang. Tentu, tak ada tiket yang dibayarkan. Hanya terhitung masuk peron, ke luar lagi. Biaya Rp. 3000 saja. Tapi, saya sering mendapatkan inspirasi dari perjalanan begini.

Saya membaca atau menulis lewat ponsel. Salah satu hasilnya, bolehlah kita tafsir secara semena-mena karya Sapardi Djoko Damono. Sebuah puisi berjudul “Hujan Bulan Juni”. Begini bunyinya:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono)

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Lelah. Kalaupun ada keluh kesah biarkan ia sedikit membasah. Sebab seperti angin yang mengabarkannya pada sebuah senja: bahkan kesedihan: bagaimanapun itu adalah bagian dari kehidupan. Yang mesti kita juga selami: Yang mesti juga kita akrabi. Ada kalanya, memang tak perlu membuka rahasia kesedihan kepada sesiapa. Sebab yang ada adalah kabar tak mesra. Kadang, artinya adalah 80 % orang tak peduli pada apa yang kita alami. Dan 20% orang senang dengan penderitaan kita. Yang demikian membuat kita tak perlu bergantung pada siapapun, kecuali pada pemberi setiap nafas yang kita hirup setiap hari.

Rahasia. Bukankah kita tak perlu mengumbar semua cerita? Memang lewat jari-jari kecil kita, lewat tombol-tombol dan layar di depan mata kita adalah godaan semesta yang menjadikan kita tak lagi istimewa. Semua cerita terhampar di sudut-sudut maya. Kantor-kantor, rumah-rumah kontrakan, kost-kostan anak sekolah. Semua cerita dari kita ada. Lantas, apa lagi yang tersisa?

Kalaupun memang tak kuat menahannya, biarkan segala cerita kita titipkan pada pohon berbunga itu. Sekedar meringankan setiap beban agar tak membuat berat kaki untuk melangkah. Menuju celah pada titik-titik temu yang sebentar lagi terang benderang. Diam-diamkan saja. Perlahan-lahan kita simpan sisa cerita, mimpi-mimpi kita: Yang kelak kita harap akan mekar setelah berkali-kali memar.

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Jejak kaki kita. Kadang kita langkahkan begitu saja. Lalu terhempas lepas. Menyapu seluruh waktu pada hari-hari kita yang semakin menua. Langkah-langkah yang salah, langkah-langkah yang semu, langkah-langkah yang ragu.

Tak perlu malu untuk memulai hidup baru. Sejarah adalah masa lalu dan hari esok itu tak ada. Yang ada hanyalah hari-hari yang kita lukiskan sekarang. Inilah mozaik dan wajah kita yang nampak dalam cermin masa depan. Yang paling penting mungkin bukan menyesali jejak-jejak langkah kaki. Tapi justru terus melakukan kerja-kerja yang kita yakini. Sampai mati.

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Terlalu banyak yang dituliskan. Terlalu sedikit yang dikatakan. Ada kalanya: kita menyimpan saja semua germuruh di dada. Tak semua informasi perlu kita komentari. Tak semua perasaan perlu kita ucapkan. Singkat cerita, hanya laku yang menjadi saksi bisu tentang bagaimana seharusnya kita mencintai: seperti Hujan Bulan Juni.

Penyair kita ini memang sekarang sudah tiada. Sang “Guru Besar Sastra UI” ini rumah pertamanya dulu di Jalan Kalimantan, Perumahan Depok Utara, kini juga lengang. Rumah itu kelihatan begitu tua, tak lagi terawat. Saat saya lewat, sangat jarang, bahkan tak pernah saya jumpai lagi orang beraktivitas di rumah itu.

Hanya, bolehlah saya tetap meresapi karya penyair ini. Saya belajar untuk melupakan kehidupan yang lalu. Esok mungkin bisa diprediksi, tapi hasil akhir tetap tidak ada yang tahu. Satu hal yang bisa diusahakan, melakukan hal terbaik di hari ini.

Selebihnya, serahkan hasilnya padaNya. Mungkin ini pesan sederhana saja, tapi seperti syair itu. Hidup memang sejatinya sederhana saja, tugas kita juga sederhana, memberikan tafsir saja agar setiap peristiwa, kehidupan kita menjadi bermakna.

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these