Kearifan Orang NU

Ribut-ribut soal adab Munas PBNU
Membawa saya pada romantika masa muda
Kesan yang tak sama.

Selepas Subuh. KH. Muchlas, dengan penglihatan yang sudah tak sempurna lagi. Berjalan pelan, sekira 500 meter. Untuk sampai ke sebuah pondok pelajar. Pondok Al-Ichsan namanya. Sebuah tempat di pinggiran Kota Magelang. Kota paling kecil se-Indonesia itu. Beliau, sosok kiayi sepuh itu, mengajar dari jam 5-6 pagi. Setelahnya, kami bergegas berhamburan, ke luar pondok. Naik angkot menuju sekolah masing-masing. Sekolah saya, SMA Negeri “Begarlist”.

Saya lahir dari keluarga dan tradisi Muhammadiyah. Tapi, sejak SMA, kami “Ngekost” di pondok pelajar itu, Pondok NU. Kami dididik oleh Gus-Gus, putra kiayi di pondok keluarga itu. Santrinya tak banyak. Sekira 30-100 orang saja. Di pondok itu, tradisi NU dijalankan. Mulai dari Qunut, ziarah kubur, tahlilan, barzanjian, terbangan shalawatan sampai ziarah ke makam-makam wali songo kita jalankan.

Di situlah, pertama kali saya melihat kearifan orang-orang NU. Satu kearifan utama, tentu kearifan dalam pembacaan kitab. Untuk sampai bisa mencapai itu, tentu penguasaan dasar gramatika bahasa Arab (ilmu Nahwu dan Shorof) para Gus itu sudah teruji. Beliau belajar mandiri bersama kiayi (ayah beliau).

Sementara, kami diajar dengan dua metode. Metode Bandongan (Wetonan): Kiai membaca dan menerjemahkan kitab, sementara santri mendengarkan dan mencatat makna (arti gantung/pegon) di kitab masing-masing. Metode Sorogan: Santri maju satu per satu menghadap kiai/ustadz untuk membaca, menerjemahkan, juga menguraikan tata bahasa secara langsung. Tak semua bisa, tapi terus mencoba.

Sampai sekarang, boleh dibilang, penguasaan kitab-kitab Bahasa Arab, santri-santri NU tentu juaranya. Selepas sekolah, selepas pondok, singkat cerita di pertengahan kuliah, kenal anak-anak NU. Kali ini, anak-anak yang juga “Ngekost” di Pondok Kutub Jogjakarta, nama aslinya pondok Hasyim Asyari. Lokasinya, di Jalan Parangtritis, dekat dengan ISI Jogja. Pondok sastra dan kepenulisan. Pondok khusus pelajar (mahasiswa) juga.

Syarat masuk pondok itu satu saja. Tidak boleh lagi minta uang orang tua selama kuliah. Alhasil, mereka berjibaku, membaca dan menulis. Entah itu resensi buku, cerpen atau artikel. Dikirim ke berbagai media. Ternyata, mereka bisa hidup. Sebuah kisah anak-anak muda NU dengan tradisi intelektual yang lumayan mumpuni, walau banyak yang tak bisa baca kitab. Saya pernah berkunjung ke pondok itu, beberapa kawan kenal. Tapi lebih banyak kenal “online” saja.

Sementara, di Jakarta, sekian tahun kemudian, saya sedikit bergaul dengan para senior, anak-anak muda NU yang menamakan diri “Jaringan Islam Liberal”. Kalau yang ini, disamping penguasaan baca kitab kuning, juga begitu akrab dengan khazanah pemikiran Barat. Buku-buku berbahasa asing non Arab disikat habis. Pernah berjaya, sayang kemudian bubar dengan sendirinya. Khusus komunitas JIL ini, saya kurang begitu sependapat, baik “pemikiran” maupun “adab”nya. JIL kini sudah tamat.

Kini, tentu saya masih bisa saksikan kearifan orang NU. Lihat saja, bagaimana kearifan pemikiran keIslaman, umpamanya Gus Baha atau Gus Kautsar atau di kampus umum (UI) ada Prof. Ibnu Hamad. Dengan “Islam Moderatnya” diterima berbagai kalangan. Ini hanya contoh saja sosok orang-orang NU dengan pemikiran “Moderat dan Lurus”. Tentu, masih banyak sosok teladan dengan beragam kearifan selain ketiga contoh di atas. Tapi, setidaknya, saya percaya kapasitas pemikiran keIslaman dan kearifan ketiganya.

Dari pengalaman itu saya belajar, kearifan orang-orang NU dengan segala variannya. Lebih tepatnya, saya belajar bagaimana kearifan penguasaan kitab bukan pilihan tapi memang kompetensi yang terus dirawat. Tradisi intelektual, khazanah literasi yang terus menjadi bagian keseharian. Juga, adab yang terus menjadi pedoman laku gerak tiap langkah. Kalau “Ngaku NU” saya kira, hal-hal demikian tak ditinggalkan. Saya lumayan cukup terkesan dengan kearifan NU sejauh ini, walau saya tetap merasa orang Muhammadiyah. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these