Saya, Masjid Kampus dan Punk

Saya mulai menaruh perhatian pada musik sejak SMA. Album kaset pertama yang saya miliki “Metalik Klinik 1”. Bukan “Punk”, tapi sebuah kompliasi musik underground yang cukup legendaris. Kayaknya itu skena musik metal awal yang muncul ke permukaan. Sama-sama “musik keras” tapi rada beda dikit. Kalau metal masih tetap andalkan jago main instrumen plus olah vokal, kalau punk yang penting ‘Pesan sosialnya”.

Setidaknya, dua judul lagi dari band yang cukup terngiang sampai sekarang. Ada Betrayer dengan “Bendera Kuning”nya, juga Bluekhutuq dengan lagu aneh ngerapnya “Raimu Koyo Garpu”. Sampai 2007, Metalik Klinik IX masih produksi. Saya dengarkan lagu itu lewat Walkman Sony bekas yang saya dapatkan dari pasar loak.

Kabar baik, setahun sekolah, seorang anak rohis SMA, kakak kelas, mepet terus. Dia ngajak aktif “Ngaji” tiap Sabtu selepas sekolah. Guru ngajinya waktu itu seorang mahasiswa Teknik Kimia UGM yang baru lulus setelah kuliah delapan tahun. Sekian tahun kemudian, dia jadi Ketua DPD PKS Magelang, jadi anggota Dewan. Sosok inilah yang mengenalkan Islam kepada kami, sekira 12 anggota rohis kajian lingkar“Sabtuan”.

Kelak ke 12-orang ini, atas bimbingannya masuk kampus negeri semua. Saya ikut “Ngaji” sampai lulus. Bahkan, karya tulis sebagai tugas akhir sekolah berjudul “Manhaj Dakwah Hasan Al-Banna Sebagai Ibroh dan Kajian Historis Dakwah Masa Kini”. Sejak, masuk rohis, praktis, perhatian pada musik teralihkan. Baru setelah lulus sekolah, saya merasa bebas. Hidup sendiri, ngekost, melakukan apa saja tak ada yang melarang.

Diam-diam, saya mulai menyukai musik lagi. Kali ini, lebih moderat. Saya menyukai lagu-lagu Punk. Sebut saja Superman Is Dead (SID) band Punk asal Bali dan Marjinal asal Jakarta, lagu-lagunya kerap merasuki telinga. Saat di kampus Puertorico, sempat kenal anak-anak “Punk Komunitas” yang rutin bikin “Zine”. Media suka-suka untuk melawan. Umpamanya, “No Gov”, “Lawan Arus”, “Speak Truth” dll. Walau kemudian SID dan Marjinal itu banyak dikritik karena sudah terlalu “Kapitalis”, “Masuk TV” dan dianggap “Bukan Punk Sejati”.

Baru sekira setahun setengah kuliah, dipepet lagi. Lagi-lagi oleh senior anak rohis, kakak Angkatan. Singkat cerita, masuklah saya ke Unit Kerohanian Islam (UKKI) Kampus. Tak lama kemudian masuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Eh keterusan, dari jenjang kaderisasi DM 1, DM 2 sampai DM 3. Dari jadi “Humas dan Propaganda” Komisariat sampai pusat. Jadi anak “Masjid Kampus” padahal aslinya “Berdarah Punk”. Ahai. Lagi-lagi perhatian pada musik teralihkan.

Kini, kami boleh dikatakan ‘Keluarga Islami” dengan lingkungan anak-anak di sekolah Islam yang setiap hari menghapal Alquran. Tentu sangat tak elok dendang lagu Punk menyala. Tapi, diam-diam, lewat head set, saya masih memantau. Umpamanya “band” yang cukup menarik perhatian saya “Bunga Hitam”.

Walau mereka tak mau menyebut dirinya kelompok band, tapi semacam penggerak perlawanan. Lagu “Negaraku Penjaraku”, “Di Bawah Acungan Senjata”, “Jual Saja Idealisme”, mungkin akrab kalau didendangkan era Soeharto. Tapi, lho kok sekarang malah jadi relavan di bawah Prabowo. Waduh. Sepertinya, memang sedang tak beres negeri ini. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these