Menyiasati Problem Kebangsaan

Menyesap secangkir teh. Duduk tenang di selasar gedung bioskop Bogor Trade Mall (BTM). Menunggu Film “Children of Heaven” versi Indonesia. Adaptasi dari film legendaris Iran tahun 1997 karya Majid Majidi, yang digarap ulang oleh sutradara Hanung Bramantyo di bawah naungan MD Pictures. Ke luar jendela, saya memandang dingin dan indahnya Gunung Salak dengan tampak rapatnya pemukiman penduduk di bawahnya.

Semua tampak indah, tapi saya kira, mereka punya problemnya masing-masing. Setiap saya ke luar rumah, turun membaur dengan masyarakat kebanyakan. Entah saat berbincang selepas maghrib sambil menunggu shalat isya, menyesap secangkir minuman di kedai kopi, bertemu dengan kawan-kawan lama, atau sekadar mendengar obrolan di pasar rakyat.

Rata-rata semua menjerit. Mengeluhkan keadaan. Tak hanya PNS (ASN), guru, pengusaha, profesional, pedagang UMKM, rata-rata mengeluhkan keadaan yang semakin sulit. Uang semakin sulit dicari, sementara kebutuhan barang-barang semakin melonjak saja. Di saat begini, saya teringat syair nasyid tempo dulu, “Hijjaz” dari Malaysia, berjudul “Lukisan Alam”.

Hidup tidak selalunya indah

Langit tak selalu cerah

Suram malam tak berbintang

Itulah lukisan alam

Begitu aturan Tuhan

Dengan pemaknaan yang berbeda, begitulah hidup. Ya, hidup tak selalu indah, langit tak selalu cerah. Pada setiap rezim kepemimpinan (presiden), pasti mengalami beragam keadaan yang berbeda-beda. Kali ini, saya tidak akan memandang problem struktural bahwa ini problem kepemimpinan kebangsaan. Tidak ada kata miskin, yang ada adalah pemiskinan negara. Kalau kita belajar “Analisis Sosial” pembacaannya bisa jadi begitu.

Tapi, kali ini saya akan sedikit menggeser cara pandang. Mendudukan diri sebagai sentra yang bisa mengontrol keadaan. Umpamanya, jelas kemiskinan itu problem rakyat kebanyakan? Tapi, coba pikirkan, apakah kemiskinan itu jadi problem, dipandang masalah oleh rezim yang memimpin (presiden)? Ya belum tentu juga, jangan-jangan, kemiskinan memang sengaja dilanggengkan dan kemudian rakyat miskin dijadikan sekadar obyek untuk melanggengkan kekuasaan itu nantinya. Misalnya dalam setiap gelaran pemilu 5 tahunan.

Saya kira, di sinilah kecakapan mengolah keadaa diperlukan. Membaca problem kebangsaan dengan kepala dingin. Hidup mungkin sedang tidak baik-baik saja. Tapi akal waras tetap perlu dijaga. Mohon maaf, sebenarnya ini sebatas opini pribadi saya, sebagai upaya menenangkan hidup, menyiasati keadaan dan memandang persoalan dengan kepala jernih. Lagi-lagi, sebatas usaha personal. Orang boleh berbeda pendapat. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these