Vegetarian Setengah Hati

Saya aslinya seorang vegetarian. Tapi, untuk menghormati kawan atau keluarga, terkadang terpaksa ikut mencicipi daging. Walau sedikit saja. Entahlah, saya tidak suka makan daging. Saya tidak suka kulineran. Lagi-lagi, karena keluarga, karena kawan, apa boleh buat, ikut mencicipi ragam kulineran yang konon lagi ngehist itu. Kalau diundang, umpamanya acara yang ada makan-makannya di hotel atau kondangan, jelas, saya lebih suka memilih menu non daging.

Memang, ada beberapa jenis kaum vegetarian. Pertama, lacto ovo vegetarian : Seseorang mengkonsumsi makanan yang mengandung biji-bijian, serealia, sayuran (termasuk umbi-umbian), buah-buahan, kacang-kacangan, susu, telur, dan produknya. Kedua, acto vegetarian : Hampir sama dengan yang diatas hanya tak mengkonsumsi telur. Ketiga, Vegan (Vegetarian total) sama sekali tidak mengonsumsi unsur hewani dan semua produk hewani.

Setelah saya pikir-pikir, saya tak mau terjebak ke pola gaya hidup ekstrem. Akhirnya, saya lebih condong yang pertama : Lacto Ovo Vegetarian. Tapi itupun setengah hati : Selain telur, saya juga kadang masih mengkonsumsi daging “putih” seperti ayam. Tapi sebisa mungkin menghindari daging “merah” seperti daging sapi atau kerbau.

Kenapa begitu? Maklum. Saya aslinya seorang yang temperamental, mudah marah, baperan, mudah tersinggung dengan kata-kata yang tak mengenakkan. Kalau terus menerus diperlakukan begitu, kadang saya memilih diam, undur diri atau lari. Baik dalam arti sebenarnya, maupun, misalnya dipergaulan digital. Saya bisa tiba-tiba ke luar saja dari group WA kalau dirasa tak sreg. Jadi, kini saya hanya ikut group WA kurang dari lima biji. Hasilnya, saya sering dinilai “miring” sama orang-orang. Sementara, tak makan daging, sekadar upaya untuk kurangi sikap-sikap amarah, emosional dan semacamnya itu. Ya, tentu orang boleh saja beda pendapat.

Hanya saja, sebenarnya, makanan favorit saya sederhana saja. Telur, sayur sup, kerupuk. Itu saja. Bertahun-tahun lamanya, itulah menu yang paling banyak saya santap. Sementara, minuman favorit saya teh hijau hangat tanpa gula. Itu saja. Soal menu makan, bagi saya bukan masalah besar. Sependek pengalaman, seingat saya, sepertinya juga belum pernah meminta istri untuk memasak ini atau itu. Belum pernah. Saya terserah saja. Kalau saya suka menu yang ada, makan banyak, kalau kurang suka, saya makan sedikit.

Usaha ini, boleh dikatakan upaya memangkas sifat-sifat hewani dalam diri. Lagi-lagi, orang boleh berbeda pendapat, tapi inilah keyakinan yang saya jalani. Saya kepingin melawan watak dasar, sifat kasar, temperamental dan seterusnya. Menjadi vegetarian, walau boleh dikata setengah hati, menjadi semacam “wasilah” untuk menuju pribadi yang “Welas Asih”. Ya, siapa tahu bisa menjadi pribadi semacam ini. Namanya juga usaha. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these