Seseorang berbisik, “Kita Petarung, Bung !”
Lontaran dari salah satu aktivis. Lumayan sudah berumur, sekira 50-an tahun. Konon, seorang aktivis mahasiwa di zamannya. Kini, masih setia di luar kekuasaan. Sosok itu berbaur dengan beberapa aktivis lain, lintas generasi, di ruangan yang tak terlalu lebar. Markas aktivis jaringan Pro Demokrasi, bilangan Jalan Veteran, Jakarta.
Saya beberapa kali mengunjungi tempat itu. Tentu, pertama kali diajak oleh seorang senior, aktivis 98. Di situlah kemudian saya mengenal tokoh-tokoh aktivis pada zamannya. Melihat dan menyaksikan secara langsung. Beberapa orang yang saya sempat ketemu langsung, ada tokoh senior Hariman Siregar, Rocky Gerung, Burzah Zarnubi, Ferry Julantono, Andi Arief, Iwan Sumule, Swary Utami Dewi dll
Beberapa kali ke tempat ini, jelas saya sekadar menajdi pendengar. Menyimak orang-orang itu bicara keIndonesaan, arah kebangsaan. Layaknya seorang aktivis, mereka beberapa diantaranya kemudian masuk partai, masuk kekuasaan. Bicara atas nama pemerintah. Beberapa yang lain, bicara sebagai orang bebas, di luas kekuasaan. Duduk sama rata, tanpa sekat. Diskusi-diskusi ragam perspektif yang menarik.
Saya sendiri, tentu rada jauh secara angkatan dan umur dengan para senior itu. Mereka sudah banyak makan asam garam politik. Sejak awal memang sudah terlibat dalam gerakan-gerakan politik praktis. Wajar, pemikiran-pemikirannya cukup matang. Tidak tampak “kagetan”, tak tampak “Gumunan”.
Mereka-mereka ini dulunya “Aktivis Jalanan”. Kini, mereka terlihat guyub. Berkumpul. Lintas generasi.
Sementara itu, bagaimana para aktivis yang dulu dikenal sebagai “Aktivis Masjid Kampus”?
Dua elemen. Sebut saja para alumni “Rohis Kampus” dan para alumni “KAMMI”. Kini, tentu tersebar sudah. Ada yang di Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ada yang di Partai Gelora, beberapa diantaranya menyebar di Partai Golkar, PAN, Gerindra. Selebihnya, menjadi ASN, pengusaha dan profesional.
Di mana mereka sekarang rutin bertemu? Tidak ada. Kecuali di ruang-ruang terbatas kelompoknya saja. Saya kira, boleh juga ada ide. Menghidupkan “Jaringan Aktivis Masjid Kampus”. Lintas generasi, lintas wilayah. Saya kira, ini ide yang lumayan menarik. Di sini, ide-ide penyegaran kebangsaan, KeIndonesiaan, Keislaman dihidupkan kembali. []
(Yons Achmad/Kolumnis)