Hidup Di Bawah Rezim Prabowo

Di sebuah kedai kopi suatu sore

Seorang kawan bertanya retorik
“Gimana rasanya hidup di rezim Prabowo?”
Saya hanya tersenyum. Tapi, kemudian merenung.

Untuk merasakan gimana kehidupan di bawah rezim tertentu, artinya kudu ada pembanding dong dengan rezim-rezim sebelumnya. Era Soekarno kita nggak tahu. Era Soeharto akhir, Habibie, Gus Dur, Megawati kita masih sekolah-kuliah. Tak banyak merasakan kehidupan dengan segala tetek bengeknya. urusan politiknya. Kesibukan paling besar saya era ini, banyak membaca, koleksi buku dan belajar menulis.

Era SBY datang. Dunia pasca kampus. Saya mudah sekali mendapatkan pekerjaan. Gonta ganti pekerjaan. Tidak cocok ya ke luar, cari kerjaan lagi. Era SBY, saya merasakan lapangan pekerjaan banyak dan mudah sekali didapatkan. Di era SBY ini, jiwa muda saya melalang buana. Beragam kesenangan ala anak muda sudah kita tuntaskan. Sampai di pertengahan jelang akhir era SBY ada ide menarik. Menikah? Boleh juga.

Era SBY, saya belum menaruh perhatian pada dunia politik praktis. Era SBY ini, dalam karier, saya lumayan banyak diundang menjadi pembicara di berbagai instansi pemerintah. Awal-awal pernikahan dan punya anak. Hidup ya lumayan, sewajarnya saja. Tidak bahagia banget, tapi ya tidak terlalu susah banget.

Tiba-tiba pemilu datang lagi. Dan, Jokowi jadi Presiden. Orang banyak bersorak-sorai. Saya biasa saja menyikapinya. Pelan-pelan, sepanjang perjalanan, saya melihat ketidakberesan. Saya mulai menulis hal-hal yang kontra dengan beragam kebijakan Jokowi. Hasilnya, ratusan kolom dan beberapa diantaranya berhasil dibukukan. Era Jokowi, kabar baiknya, saya masih bisa “menyusup” jadi pembicara-pembicara di lingkungan kementerian. Dengan segala keamburadulannya. Era Jokowi berakhir.

Pemilu mulai lagi. Kali ini saya punya jago, Anies Baswedan. Saya sedikit ikut bertempur ditim media pasangan ini. Sayang belum beruntung. Kalah jago saya. Tapi, terlepas dari kekalahan itu, saya banyak menjalin komunikasi dan berjejaring dengan orang-orang yang “sepaham” dalam politik. Saya banyak kenal “orang-orang baik”.

Kini, eranya Prabowo. Setahun lebih sudah. Satu kata yang bikin “Horror” adalah “Efisiensi”. Istilah bagus, tapi tak seindah dalam realitas. Semua menjerit gaes. ASN menjerit program-program banyak yang “dihilangkan.” Dampak susulan, sektor swasta (terutama perhotelan) tenggelam, vendor-vendor termasuk konsultan dan pembicara publik gigit jari. Singkatnya, publik (rakyat) cari solusi jalan hidup sendiri-sendiri.

Jika era Jokowi saya memilih sikap kontra dan “oposisi”, di era Prabowo ini saya sebenarnya juga tidak pro, tapi memilih dengan istilah “Adaptif’. Dalam arti lebih banyak mengapresiasi orang-orang yang memang bagus, juga beragam kebijakan yang dijalankan. Tapi, tanpa kehilangan sikap kritis. Sebuah pilihan yang boleh dibilang cukup moderat. Inilah sikap saya untuk sedikit mencintai negeri ini.

Alasannya sederhana. Apakah setiap rezim itu selalu bagus dan ideal? Jawabnya, sudah jelas tidak. Semuanya, banyak yang ternyata tidak beres juga. Maka, izinkan, diusia yang sudah 40 plus ini, saya memilih jalan “adaptif” ini. Sebuah jalan yang saya kira cukup realistis mencermati keadaan. Itulah sikap yang saya ambil dalam karier, bisnis dan perjuangan politik saat ini. []

Yons Achmad. Kolumnis, praktisi komunikasi. Pendiri Brandstory.id

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these