Kembali Hidupkan Pikiran

Setiap kita, memiliki otak untuk berpikir. Beberapa filsuf percaya, pikiran manusia itulah yang membentuk dunia. Setiap kita, memiliki bagian otak yang disebut Lobus frontal. Ia bagian terbesar dari otak yang terletak di depan, tepat di belakang dahi. Ia berperan sebagai pusat kendali utama yang mengatur fungsi eksekutif tingkat tinggi, termasuk perencanaan, pengambilan keputusan, perilaku, emosi, kepribadian, gerakan sukarela, serta produksi bahasa.

Sebuah pertanyaan kecil, bagaimana kira-kira gambaran pikiran kita atas dunia?

Barangkali, pertanyaan itu masih agak absurd. Sebenarnya, itu pertanyaan yang muncul atas perenungan kecil saya. Seperti biasa, setiap sore tiba, saya coba luangkan waktu sejenak. Duduk diam sekadar merenungi perjalanan hari itu. Apakah bermakna, biasa saja, atau sia-sia.

Sekadar sebuah usaha yang saya sebut dengan “Kembali Menghidupkan Pikiran”.

Kenapa? Saya percaya capaian kehidupan yang mewujud pada kenyataan-kenyataan yang diharapkan, awalnya dari pikiran juga.

Umpamanya, seorang Ahmad Dahlan dengan “Teologi Almaunnya” yang melahirkan gerakan amaliah (harakatul amal) yang mendasari dakwah Muhammadiyah untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Mewujud dalam Lembaga Pendidikan, rumah sakit panti asuhan.

Saya juga pernah mendengar langsung cerita dari pendiri Paragon Corp (Wardah, Kaft dll). Awalnya dia berpikir dan bertanya, apakah lipstik (kosmetik pemerah bibir) yang dipakainya ini halal karena sering “kemakan”. Dari pikiran itu, lahirlah beragam kosmestik halal dengan beragam produk sampai sekarang.

Pikiran-pikiran semacam itu, kita sebut saja dengan “Pikiran Filosofis”. Sementara, kenyataan yang ada di depan mata kita, rasa-rasanya pikiran semacam itu semakin langka saja. Yang marak, pikiran-pikiran yang sifatnya taktis atau strategis. Kebanyakan tidak bertanya “Apa dasarnya”, tapi langsung ke “Bagaimana caranya”. Semacam usaha yang instan untuk cepat meraih sesuatu.

Dalam industri buku, dulu marak fenomena buku “How To” (panduan) yang diproduksi untuk orang-orang malas berpikir. Sering diledek sebagai buku “Softex” alias sekali pakai (baca) buang. Kini, diera konten-konten video pendek, fenomena yang sama muncul. Video-video tips-tips, how to, cara cepat, cara praktis, menulis buku dalam satu hari bahkan dua jam bisa dll. Singkat cerita, mohon maaf, sering masuk kategori informasi sampah.

Tapi, konten-konten semacam itu yang sekarang digemari kan? Kali ini saya tak mau menjawab pertanyaan ini. Mungkin tantangannya sekarang, bagaimana sesuatu itu “Boleh pendek tapi tetap dalam”

Saya kini hanya sedang mengajak. Diri saya pribadi khususnya, dan orang-orang di sekitar saya. Sepertinya, ada baiknya kita kembali hidupkan pikiran. Agar hadir argumen-argumen filosofis yang lebih dalam untuk hidup menjadi lebih maknawi. Menjadi lebih bermakna. Itu saja. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these