Hidup tak selalu melulu nggolek upo (cari uang). Ada kalanya, harus sowan, ngangsu kawruh (menimba ilmu pengetahun) dari para senior, sesepuh. Itu juga yang coba dilakukan oleh Mas Untung. Kali ini, dirinya sowan ke salah satu profesor. Guru Besar Ushuludin yang masih mendidik para mahasiswa di salah satu kampus agama negeri.
“Sekecakke rumiyin nggih Mas,” kata satpam, penjaga rumah itu
Mas Untung duduk tenang di ruang tamu. Menunggu sang empunya rumah menemuinya.
Matanya, memandang takjub. Ruang tamu itu, tak ada barang-barang pajangan mewah dalam banyangan orang kebanyakan. Yang ada, hamparan kitab-kitab, buku-buku tersusun rapi di rak buku kayu kombinasi kaca itu. Pantas. Gumam Mas Untung. Sejauh ini, kata-kata yang keluar dari sosok itu selalu lembut, tenang, pelan, tapi penuh makna.
“Pie kabarmu dek Untung,” kata sang profesor.
“Dalem kulo sae prof,” jawab Mas Untung singkat.
Keduanya lalu terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan yang cukup mendalam. Salah satunya, saran dari beberapa kawannya. Diantaranya, kedai kulinernya “Warung Jowo” sejauh ini memang sudah lumayan ramai pengunjung. Tapi, ada satu usulan menarik. Menyediakan juga semacam rak-rak buku. Jadi selain pulang ke situ kenyang perut, otak juga sedikit terisi.
“Kui ide apik dek Untung, tapi ojo ngarep bathi, apik meneh ono ruangan nggo rasan-rasan” kata sang profesor.
Ide menarik, tapi jangan berharap untung. Kali ini, yang dimaksud bathi itu untung (uang). Itu nasihat sang profesor yang langsung bisa dipahami maknanya. Juga, muncul juga ide tentang dibuatnya ruang khusus ber AC. Tak usah terlalu luas. Muat 30 atau 50 orang itu sudah cukup. Ruang diskusi, ruang bedah buku. Singkat cerita, sang profesor menyetujui dan merestui ide ini. Mas Untung cukup lega.
“Matur suwun sanget nggih prof, kulo nyuwun pamit,”pungkas Mas Untung berpamitan setelah banyak ngobrol dengan profesor seniornya. Tak lupa, berikan bingkisan ala kadarnya.
Ngelmu kui kelakone kanthi laku. Ilmu itu, bisa dicapai dengan dijalani sungguh-sungguh. Begitu arti pakemnya. Tapi, sebelum ke sana, Mas Untung coba memaknainya dengan cara berbeda. Ilmu hanya bisa didapat dari belajar. Dari buku, tentu saja bisa.
Tapi, pengalaman juga telah mengajarkannya. Cara paling cocok, pas dan efektif menurutnya. Untuk menguasai ilmu tertentu, tak ada cara lain, harus didatangi. Sowan kepada ahlinya. Hanya dengan cara itu intisari ilmu pengetahun bisa didapatkan langsung dari sumber yang otoritatif.
Sementara, ke luar dari rumah itu, wajahnya kembali tampak sumringah. []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)