Kebat Kliwat, Gancang Pincang

Bejo, “Asisten Pribadi” Mas Untung sudah sekian tahun berkolaborasi. Sosok yang sangat loyal. Saat baru datang ke Jakarta, dirinya cukup narimo ing pandum, menerima saja berapa gajinya. Yang penting bisa untuk untuk makan dan kebutuhan hidup yang menyertainya. Waktu itu, dirinya masih jomblo. Sekarang, sudah punya istri dan anak satu. Istrinya, ikut bekerja di “Warung Jowo” kepunyaan Mas Untung.

Kalau waktu sedang luang, dirinya kerap scrol-scrol video di media sosial. Saking seringnya, tiba-tiba kepikiran “Kayak orang-orang”. Tampil dengan gaya hidup yang lumayan mentereng. Ya, siapa tahu derajat hidupnya lebih meningkat dari sekarang.

Makanya, kalau ada kesempatan curhat ke Mas Untung, uneg-unegnya bakal dikeluarkan. Sampai, waktu itu tiba.

“Njenengan uripe kepenak sanget nggih Mas?”

“Kepenak piye Jo?”

“Nggih niku, sampun makmur”

“Biasa wae Jo, saben ndino isih tetep mikirke awakmu lan liyo liyane”

“Mbok kulo diajari bisnis Mas, supados koyo njenengan”

“Tenan po pie, ruwet, mumet loh Jo, tenan”

Bejo agak terdiam sejenak.

“Tapi nek serius yo oleh wae”

Memang, media sosial kadang membuat manusia, seperti yang sudah disinggung di atas, sering ingin “Kayak Orang-Orang”. Memang, banyak godaan-godaan semacam itu. Yang membuat banyak orang grusa-grusu, terburu-buru untuk lekas mengejar mimpi. Tapi, kadang melupakan proses dan banyak hal lainnya.

Orang Jawa, mengenal istilah Kebat Kliwat, Gancang Pincang, pekerjaan yang dilakukan secara tergesa-gesa atau terburu-buru akan menghasilkan sesuatu yang kurang baik, cacat, atau merugikan.

Begitu juga, dengan mengejar mimpi. Memang, mimpi tetap harus terus dikejar. Tapi perlu kematangan pikir dan tindak. Tak grusa-grusu, tak buru-buru. Slow aja, alon-alon waton kelakon []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok).

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these