Vita Contemplativa: Jalan Hidup Hening

Seorang filsuf kelahiran Jerman, Hannah Arendt dalam bukunya “The Human Condition” pernah mengenalkan istilah “Vita Contemplativa”. Ia memiliki makna gaya hidup hening dan meditatif di mana seseorang mengambil waktu untuk merenung, bermeditasi dan mengejar kesadaran spiritual. Saya kira, istilah demikian perlu juga kita renungkan.

Ya, vita contemplativa (kehidupan kontemplatif), kehidupan yang hening ini menjadi perhatiannya. Sebelumnya, dirinya mengenalkan apa yang disebut dengan “Vita Activa” di mana manusia terlibat dalam aktivitas yang menghasilkan sesuatu. Dalam aktivitas ini, dirinya membedakan tiga aktivitas utama manusia yang membentuk kehidupan, yaitu labor (kerja), work (pekerjaan), dan action (tindakan).

Kali ini, saya tidak akan membahas “Vita Activa” ini, kenapa? Karena semua orang juga sepertinya melakukannya. Di sini, saya sedang tertarik untul sedikit mengelaborasi sesuatu yang sebenarnya ada dibalik semua tindakan manusia itu. Sebuah fase di mana manusia berhenti sejenak dari kegiatan aktifnya. Berhenti sejenak untuk merefleksikan makna dan tujuan tindakannya.

Saya rasa ini menarik.

Kalau merenungi diri, saya sendiri pernah membagi diri dalam tiga fase kehidupan. Tentu, sebuah pembagian fase kehidupan yang semena-mena saja. Sekadar melongok bagaimana perkembangan diri ini dilihat dari perspektif diri sendiri.

Pertama, fase taktis. Saat saya berumur 20-30 tahun. Fase di mana, segala hal dilakukan. Tidak usah banyak pertimbangan. Setiap peluang diambil. Biarpun abu-abu tetap ambil saja. Jika ada sesuatu yang dirasa menguntungkan ambil saja. Ketika ada sesuatu yang menarik perhatian, nyemplung saja. Tidak usah banyak berpikir. Fase sat set yang mungkin banyak juga dilalui seseorang. Fase agak ngawur, gegabah, serampangan, mungkin juga hadir di sini. Tapi di sini, karena lebih banyak menjadi “karyawan”, maka banyak juga belajar apapun dari banyak orang.

Kedua, fase strategis. Saat saya berumur 30-40 tahun. Saat saya memutuskan untuk bekerja secara mandiri, tidak bergantung pada perusahaan orang lain. Mendirikan beragam usaha, gonta-ganti demi alasan “Strategis”. Menjaga prioritas-prioritas hidup. Tak selalu berhasil. Tapi setidaknya, mentalitas kemandirian terasah. Sampai pada satu titik, tekuni usaha, bisnis, karier sesuai “Passion” saja. Pada fase ini, pelajaran paling berharga tentu “Kuat Mental”.

Ketiga, fase filosofis. Saat saya berumur 40 +. Ya, tak terasa, sudah 40 + saja. Dan jika saya ditanya berapa umurnya akan saya jawab ini sampai mati. Mau nanti umur 50, 60, 70 atau 80 pokoknya umur saya tetap 40 +. Ahai. Sebuah fase yang boleh dibilang hidup diusahakan dengan tenang. Apa problem kehidupan sudah selesai? Tentu belum. Bahkan, hidup semakin banyak tantangan. Tapi, saya berusaha menjalaninya dengan “Ilmu Tenang”.

Memang, kalau mengukur diri dengan capaian orang lain, atau dengan standar “Orang Tiktok”, mungkin akan bikin stress sendiri. Makanya, saya tidak terlalu berasyik mansyuk dengan standar-standar kehidupan yang dibuat orang lain. Bolehlah saya punya hak untuk mengukur pencapaian dengan parameter keyakinan diri sendiri. Mungkin ada yang bilang, “Ah itu mah cuman menghibur diri aja”. Tak masalah, sebagai penghiburan, oke juga.

Kini, bolehlah “Jalan Kehidupan yang Hening” itu saya dan mungkin kita semua nikmati. Terutama bagi orang-orang yang sudah berumur 40 +. Tetap bekerja. Tentu saja. Sebuah fase kehidupan yang lebih banyak menaruh perhatian pada “Viva Contemplativa”. Sebuah cara hidup yang lebih banyak perlu pertimbangkan argument-argumen yang lebih filosofis, dibanding hal-hal yang sifatnya strategis atau taktis. Inilah jalan hidup yang mungkin orang lain tak setuju. Tapi sedang saya jalani dengan sepenuh hati. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these