Sebagai seorang pengusaha, kesehariannya cukup sibuk. Agak aneh memang. “Wong Megelang, wong Jowo kok dadi pengusaha, ora iso.” Begitu kata sesepuh yang dihormatinya. “Wong Jowo ki pokoke sekolah sing duwur.” “Dadi PNS, dadi polisi po tentara”. “Pensiun, mbalik meneh Megelang, ngingu wedus”.
Sebut saja Mas Untung, nama pengusaha Jawa itu. Punya usaha jual beli property sama bisnis kulineran. Sehari-hari, kesehariannya dibantu Bejo, sopir pribadinya sekaligus berperan sebagai semacam pembantu umum.
“Pripun Mas, sae mboten sakniki”
“Rodo ruwet iki Jo, bisnis gek ambyar kabeh”
Sehari-hari, Bejolah yang temani Mas Untung ke sana kemari. Urusi bisnis, cari peluang sana-sini. Ketemu kawan-kawan untuk kolaborasi. Saling mendukung bisnis satu sama lain.
“Mpun dangu njenenang bisnis nggih Mas?”
“Lumayan Jo, tapi yo mbiyen dadi karyawan sik”
Mas Untung lalu cerita, bagaimana wong Jowo, khususnya wong Jawa Tengah, khususnya lagi wong Magelang, dari kecil memang tak pernah (jarang) dididik jadi pengusaha atau pebisnis sama orang tuanya. Rata-rata, pokoknya kuliah yang tinggi. Lalu jadi pengawai atau aparat. Entah itu PNS, TNI atau polisi. Begitulah rata-rata orang Jawa.
Hasilnya, kalau orang Jawa Tengah nekat bisnis, jadi pengusaha, sudah pasti awalnya babak belur. Banyak yang gulung tikar, hanya sedikit yang berhasil.
“Tapi, enak nggih Mas, bebas uripe njenengan”
“Yo ora Jo, kui ming sawang sinawang wae”
‘Ngoten nggih?”
“Lha iyo, rumangsamu ketok santai, iso bebas, asline mumet sirahku Jo”
“Penak kowe, nyopir, nek wis tekan, nyantai, iso ngopi-ngopi, ra mikiri mbayar karyawan akeh”
“He he” Bejo hanya tersenyum simpul. Hidup, kata orang Jawa memang sebatas Sawang Sinawang (saling memandang) saja. Orang melihat orang lain enak, padahal belum tentu juga. Begitu sebaliknya. Akhirnya, masih kata orang Jawa “ Urip kui pokoke disyukuri wae.” []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)