3 Nasihat Ibnu Al-Jauzi dalam Kitab “Shaidul Khatir”

Sebuah habit yang coba saya jalankan tiap Jumat, membaca buku agama. Di tahun ini, saya prioritaskan membaca kitab-kitab ulama klasik. Tentu bukan versi asli bahasa Arab, tapi versi terjemahan. Kali ini, saya membaca buku intisari kitab “Shaidul Khatir” karya Ibnu Al-Jauzi. (Penerbit Qalam, Jakarta). Disebutkan, karya beliau mencapai seribu kitab, dari yang kecil sampai yang besar. Tetapi, sebagian besar terlupakan dan sebagian tidak kita kenal.

Salah satu yang masih ada adalah kitab ini. Ia hidup bersama manusia-manusia zaman sekarang, berbicara dengan para pencari ilmu, menemani mereka di mana pun mereka berada dan ke mana pun mereka pergi. Kitab ini berjalan seiring perjalanan matahari, memberikan manfaat yang tak berhingga kepada umat. Sosok ulama ini, dalam urusan nasihat memang dikenal sebagai “Seorang imam bagi penduduk zamannya”.

Tentu, teramat banyak nasihat-nasihat yang diberikannya. Tapi, izinkan saya mencoba membaca, mencerna dan mengamalkannya setidaknya beberapa. Kali ini, izinkan saya menghadirkan 3 saja nasihatnya.

Pertama, ikutilah pemilik syariat. Jalan yang benar dan lurus adalah mengikuti petunjuk pemilik syariat dan bergegas menjalankannya. Sebuah pesan dan nasihat yang berangkali terkesan normatif. Tapi inilah pesan awal dalam kitab ini. Hidup, dengan demikian hanya persoalan mengikuti pemilik syariat dan menjalankannya.

Kedua, jadilah orang berilmu. Makhluk yang paling dekat dengan Allah adalah orang-orang berilmu. Ketauhilah, kata Ibnu Al jauzi, ilmu tidak dilihat dari wujud luarnya yaitu bermanfaat. Akan tetapi, dilihat dari maknanya. Sementara, manfaat ilmu tidak akan diperoleh kecuali dipelajari dan diamalkan. Ketika itulah ilmu akan menampakkan rahasianya dan memudahkan jalannya (jalan hidup seseorang).

Ketiga, pencari rezeki yang berakal. Dikatakan, sebaiknya, orang yang berakal mencari rezeki melebihi dari yang ia butuhkan. Seandainya terjadi halangan untuk bekerja, maka rezeki yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam sisa hidupnya.

Itulah 3 nasihat dari begitu banyak nasihat yang dibeberkan dalam kitab ini. Ketiganya, ikutilah pemilik syariat, jadilah orang yang berilmu, pencari rezeki yang berakal. Lagi-lagi dan bisa jadi, nasihat itu sederhana saja, tapi kali ini, saya tidak akan membantahnya.

Saya kira, ada saatnya memang perlu membuka diri kepada nasihat-nasihat berharga. Memang, idealnya, untuk bisa mendapatkan nasihat-nasihat berharga, kita mestinya harus datang ke guru-guru terbaik kita. Mendatangi mereka.

Hanya saja, kali ini karena keterbatasan guru dan mungkin belum adanya kesempatan mendatangi guru-guru terbaik, bolehlah kita menjalankan nasihat dari para guru dalam kitab-kitab terbaik yang ditulisnya.

Untuk sementara, biarlah nasihat itu hadir, kita pahami bersama dan sama-sama mengamalkannya. Semuanya itu demi hadirnya keberkahan hidup dalam setiap nafas dan gerak kita. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these