Saya punya beberapa kawan di lingkaran terbatas. Umurnya antara 35 sampai 45 tahun. Pria-pria dewasa. Sebut saja lingkaran ini sebagai “Komunitas Ayah Kuat”. Sebuah istilah yang mungkin terlalu mewah dengan sebutan “Kuat”. Tapi, bolehlah komunitas ini bisa diartikan dengan sebutan komunitas “Saling Menguatkan”. Ya, kami menyebutnya begitu. Anggota awalnya, memang tak sampai 10 orang saja.
Tapi, kami berharap di lingkaran terbatas ini, bisa terus tumbuh dan menebar kiprah manfaat. Sebuah inisiatif yang semula sebatas obrolan ringan para ayah sambil ngopi-ngopi plus camilan ala kadarnya. Mulai dari obrolan problematika para ayah, sampai kemudian sedikit mengerucut pada sebuah kesimpulan. Tentang bagaimana bisa menjadi ayah yang kuat. Banyak ragamnya. Tapi, bolehlah dimulai dengan bagaimana menjadi ayah yang kuat dalam tigal hal, kuat mental, kuat finansial dan kuat sosial.
Pertama, kuat mental. Satu hal yang kami maksud dengan kuat mental adalah bagaimana bisa menjadi ayah dengan “mindset” mental yang benar. Seorang ayah yang punya fikrah (pemikiran) dan fitrah (Orisinalitas) yang lurus. Menjadikan dirinya bisa benar-benar punya mentalitas yang cukup sebagai seorang ayah. Mentalitas kuat yang tak hanya punya manfaat bagi dirinya sebagai ayah, tapi juga bisa berdampak bagi istri dan anak-anaknya bahkan sesama.
Kedua, kuat finansial. Bisik-bisik antar kami. Ini sebenarnya yang paling untuk secepatnya teratasi. Menjadi ayah yang kuat secara keuangan. Menjadi ayah yang punya karier dan bisnis yang bisa mencukupi kehidupan (minimal anak dan istri) dengan lebih layak lagi. Konon, kuat mental saja, termasuk secara spiritualitas bagus, ibadah bagus, agamanya bagus (soleh), tapi keuangan atau finansial berantakan, menjadikan para ayah kurang dihargai, tak hanya orang lain, bahkan oleh istri dan keluarga sendiri.
Ketiga, kuat sosial. Kedua hal di atas, kuat mental beres, kuat finansial cukup, tapi hubungan sosial terlupakan, juga menjadi kurang pas juga. Nah, bagaimana menjadi ayah yang berdampak, tak hanya bagi lingkup istri dan anak-anaknya, tapi juga bisa berdampak secara sosial. Ini yang kemudian menjadi isu menarik untuk bisa sama-sama diamalkan.
Memang, kalau kaji misalnya peran ayah dalam Islam, peran ayah dilihat dari konsep dan teori-teori parenting terbaru, ketigal hal di atas terlalu sederhana atau menyederhanakan peran ayah. Kami, terus terang paham itu. Tapi setidaknya, ketika menjadi program, tak usah muluk-muluk dahulu. Untuk bisa menjadi ayah kuat dalam tiga ranah itu saja, sepertinya masih banyak yang belum benar-benar “Mandiri dan Berdaya”. Itu sebabnya, langkah awal fokus ke situ saja dahulu.
Untuk sementara, klub ini memang masih cukup eksklusif, tapi pelan-pelan perkembangannya akan terus saya ceritakan.
Yons Achmad. (Pegiat klub @ayahkuat_id)