Kementhus Ora Pecus

Sudah agak lama tak hujan. Udara mulai lumayan gerah. Sementara, suhu politik juga banyak kabar yang bikin gerah. Itu pula yang dirasakan Mas Untung. Lalu, tiba-tiba, teringat cerita lama.

Dulu memang pernah diajak gabung dengan semacam gerakan mahasiswa luar kampus. Tapi, tak pernah menjadi tokoh sentral.

Jabatan yang paling banyak diembannya, “Seksi Konsumsi.” Ya, itulah jabatan yang kurang mentereng bagi kalangan aktivis. Atau, kalau tidak jabatan itu, paling mentok sebagai “Kepala Kerumahtanggaan.” Tapi, dirinya tetap Jalani itu dengan sepenuh hati.

Jadi terbiasa urusi logistik, terutama soal makanan. Otomatis jadi terbiasa masak pula. Kalau para aktivis, tokoh sentral kerap “Goreng Isu” untuk kepentingan politiknya, dirinya benar-benar “Goreng atau bakar” beragam menu untuk mengganjal perut aktivis rekan-rekannya.

Hari itu, di kedai “Warung Jowo” yang dikelolanya, kedatangan aktivis, kawannya dulu yang kini jadi komisaris BUMN

“Woi dab, jek urip kowe su,” kata kawannya itu

Mas Untung hanya tersenyum disapa begitu. Ungkapan “dab,” kata ini sebutan atau sapaan akrab untuk memanggil teman laki-laki, yang berasal dari kata “Mas” dibalik menggunakan sistem boso walikan (huruf M diganti D, S diganti B). Bagi orang Jawa, itu semacam “Bahasa gaul anak muda”.

Sementara “Su” alias asu, “anjing” juga sering digunakan. Bukan untuk mengumpat, tapi sekadar ungkapan keakraban. Kalau orang Jawa Timuran, sering bilang “Cuk”.

“Apik dab, lambemu,” keduanya lalu berpelukan. Berbincang sambil menyesap kopi di kedai itu.

Kawan Mas Untung ini, boleh dibilang tipe “Kementhus Ora Pecus”. Tipe yang terlalu banyak omong, banyak bicara, tapi aslinya tidak bisa melakukan apa-apa alias tidak kompeten. Hanya pandai bercakap-cakap, “olah mengolah”. Hasilnya, jadi komisaris BUMN.

“Aku yo isone ming ngene iki dab, nggambleh wae ha ha ha,” ungkapnya sekenanya.

Keduanya lalu bercerita ala akdarnya. Sementara, watak orang Jawa memang tak semuanya kalem. Banyak juga yang “Kementhus” semacam itu. Tapi, kalau “ditekuni” ternyata ada hasilnya juga. Mungkin, ada yang bilang jadi komisaris modal menjilat saja. Aslinya tak sesederhana itu.

Dalam perjalanan ke sana, ternyata butuh “trik” juga. Kawan Mas Untung itu, ternyata berhasil terapkan ajaran “Manjing, ajur, ajer”. Artinya, masuk, melebur, mencair. Penjelasannya, kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri, bergaul luwes dengan berbagai kalangan dan menempatkan diri sehingga disenangi orang lain.

Kali ini, Mas Untung belajar banyak dari silaturahmi singkat dengan kawan lamanya itu. Urip kui perlu luwes. Hidup itu perlu lentur, fleksible, tidak kaku, tidak memadang semua dengan hitam putih. Pelajaran penting ngopi-ngopi sore itu. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these