Di media sosial Instagram, Bejo, “Asisten pribadi” Mas Untung, pemilik kedai “Warung Jowo” itu mendapati kabar menarik. Masih di Jawa Tengah. Seorang pemuda mencuri sepeda motor petani yang sedang diparkir di pesawahan. Dipergoki pemiliknya, dikejar, ketangkep. Diikat di tiang listrik.
Sang pemuda umur 26 tahun itu akhirnya hanya bisa menunduk. Tak ada kekerasan, tak ada baku pukul. Tak ada main hakim sendiri. Menunggu polisi menjemput. Hanya, dari sekian komentar warga, ada komentar nasihat yang menarik
“Kow iki jek enom, isih iso kerjo”
“Kamu ini masih muda, masih bisa kerja”
Nasihat pendek. Tapi, tentu saja langsung menusuk ke jantung. Seolah, yang bicara itu mewakili nasihat sesepuh, orang Jawa yang sekian lama sudah merasakan asam garam kehidupan. Nasihat yang sederhana, tapi sungguh mengena.
Menjadi pengingat siapa saja.
Ya, selagi badan masih sehat, pantang orang Jawa menempuh jalan pintas, apalagi jalan yang tidak semestinya itu. Salah satunya mengambil hak orang lain. Pantang pula, tidak bekerja. Orang Jawa, akan melakukan apa saja untuk menghidupi keluarga. Entah dengan menjadi kuli sekalipun. Tipe pekerja keras, begitu umumnya.
Filosofi Jawa mengajarkan “Witing Mulyo Jalaran Wani Rekoso” alias kekayaan, kejayaan, kemakmuran selalu ditempuh dengan berani bersusah payah terlebih dahulu. Banyak yang meremehkan kerja keras ini. Ada yang bilang, “Jangan kerja keras” tapi cobalah “Bekerja cerdas.” Orang Jawa tak begitu, kerja cerdas, tetap saja bagian dari kerja keras.
Orang Jawa selalu percaya, untuk bisa “Mulyo” tidak bisa dengan cara yang instan. Tidak ujuk-ujuk, tidak tiba-tiba. Pasti melalui serangkaian proses yang panjang. Orang Jawa, sering menyebutnya dengan “adol kringet”. “Jual Keringat,” yang sering dimaknai sebagai mengupayakan segala jenis usaha melalui pikiran, tenaga dan jerih payah lainnya untuk mendapatkan rezeki.
Bejo sebenarnya gatel ingin komentari berita itu. Ia mau hubungkan dengan kasus Gubernur yang bikin sayembara begal, atau hubungkan dengan terduga pencuri ayam di Bali yang mati dikeroyok. Tewas diamuk masa. Ingin berkomentar panjang, tapi kebingungan mengungkapkannya. Jadinya, dirinya hanya komentar singkat
“Mantabs, kelas bosque”
(Yons Achmad. Kolumnis. Tinggal di Depok).