Setiap hari ada nasi, setiap hari ada rezeki. Itu makna harfiah dari ono dino ono upo. Filosofi orang Jawa yang cukup dikenal luas. Di mana, setiap hari akan selalu ada rejeki. Unen-unen ini mengajak seseorang ditakdirkan dengan rejeki masing-masing. Yang harus dilakukan oleh seseorang adalah berusaha mencari rejeki (upa) setiap hari. itu saja.
Mas Untung, sebagai pebisnis, tentu punya banyak kawan. Tak hanya dalam bidang usaha yang sama, kulineran Jawa. Tapi, juga dari berbagai kalangan. Salah satunya, Om Bram, sebut saja begitu.
“Kowe enak yo dek Untung, saben dino entuk duwit,” kata Om Bram mengawali pembicaraan suatu ketika dalam sebuah tongkrongan kulineran.
Mas Untung tak menjawab. Hanya sedikit tersenyum.
“Njenangan, luwih enak, mboten modal duwite kathah,” lontar Mas Untung
“Wah yo ora ngono, tetep modal, ning yo ora entuk saben dino koyok dek Untung”
Kali ini, Mas Untung lebih banyak mendengar cerita saja. Bisnis Om Bram, boleh dikatakan seorang konsultan. Mendapat uang ketika membantu klien menyelesaikan masalahnya. Atau, ketika dirinya misalnya diminta menjadi pambicara, narasumber di perkantoran atau televisi. Belakangan, ia mencoba mengikuti tren, coba jual-jual produk digital, tapi belum membuahkan hasil yang signifikan.
Ia, menjelaskan bisnisnya. Memang, tak setiap hari mendakan uang. Bisa seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali, bahkan bisa dalam sebulan tidak mendapat uang sama sekali. Apakah dirinya dalam kesekian hari itu tidak bekerja dan tidak mendapatkan rezeki? Tentu tidak seperti itu.
Tiap hari, dirinya tetap menyapa dunia. Dengan menulis, membagikan konten video agar dunia tahu dirinya bisa menyelesaikan beragam persoalan. Juga, terus membuat produk-produk yang solutif dan mencerahkan. Dirinya juga tak lupa menghitung rezeki, selain uang. Nikmat Kesehatan, bisa bertemu dengan orang-orang baik dan hebat dalam bidang masing-masing, menurutnya itu rezeki juga.
Dalam bekerja, dia bukanya tak memakai modal layaknya bisnis kulineran. Ia tetap modal juga. Satu yang terpenting tentu skil dan pengetahuan yang dia miliki. Dari proses belajar formal, kursus, pelatihan bersertifikat maupun kemampuan lapangan. Selebihnya perangkat teknis laptop, HP, internet dan seterusnya.
“Awake dewe kudu tandang bareng dek Untung,” pesannya. Sebuah jalan kolaborasi, kata anak zaman sekarang.
Mas Untung setuju. Alasannya, orang Jawa itu, mungkin sering ngumpul. Tapi dikenal sulit untuk saling mengapresiasi, saling membantu, saling bekerjasama. Lebih banyak sendiri-sendiri kerjanya. Itu “mitos” yang coba mereka bongkar.
Satu yang pasti, mereka sama-sama percaya filosofi tadi. Ya, ono dino ono upo. Satu filosofi orang Jawa yang menjadikan mereka yakin. Mereka yakin aakan peparinge Gusti Allah. Yakin Pangeran, gusti Allah Swt selalu memberikan rezeki kepada hambanya, setiap hari tanpa kecuali. Keyakinan yang menjadikan orang Jawa tenang dalam kehidupan keseharian. []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)