Ngunduh Wohing Pakarti

Kali ini, Mas Untung ceritanya mau ketemu rekan bisnis. Ajak ketemuan di sekitaran Jakarta Kota, jarak dari rumahnya lumayan jauh. Seperti biasanya, dalam perjalanan bersama Bejo, supir pribadi sekaligus pejabat “Kementerian Pembantu Umum,” terlibat obrolan-obrolan yang cukup signifikan.

“Pripun Mas dinten niki”

“Yo, ngene iki Jo, biasa wae, sing penting obah”

“Pemerintah pripun Mas”

“Wah akeh banget gebrakane, kabeh-kaber dipajeki saiki”

“Ruwet nggih Mas”

“Yo mbuh iki, arah negarane ora jelas”

“Kinten-kinten, kudu pripun ngadepi koyok ngeten”

“Koyo awake dewe ki yo sakdermo mlaku wae, ra usah macem-macem”

“Mboten melu protes ngoten Mas?”

“Sakjane yo anyel tenan, tapi kelingan umur Jo, rambut wis do putih kie”

“Pokoke awake dewe saben dino nandur kabecikan”

Ya, betul juga. Mas Untung, mengingatkan pepatah filosofi Jawa yang lumayan dikenal. “Ngunduh wohing pakarti” yang berarti “memetik buah dari perbuatan sendiri”.

Yang dilakukan Mas Untung cukup menanam, menanam dan menanam. Begitu saja terus. Kelak, mungkin kita bakal menikmati hasilnya. Bisa jadi anak dan cucu kita. Selebihnya, ada kemungkinan orang lain juga bisa menikmati hasilnya.

Di dunia, mungkin begitu banyak orang bisa bersilat lidah, menjalankan segenap tipu daya. Tak ada orang yang mengetahuinya. Hanya, suatu saat, pada waktunya, semua akan terbuka, terang benderang.

Sementara itu, Gusti mirsani sekabehing tumindak. Allah melihat segala perbuatan.

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these