Mas Untung pagi itu punya penghiburan lumayan. Hatinya sedang sumringah. Jagoannya pada piala dunia menang. Spanyol meraih juara pada perhelatan akbar sepakbola 2026. Gegap gempita dunia menyambutnya. Termasuk sambutan dari anak-anak Gaza.
Selepas subuh, ia mengayuh sepeda lipatnya. Merayakan gembira.
“Waduk brigif, boleh juga,” gumamnya. Maka, ia meluncur ke tempat sejuk pinggiran Jakarta Selatan, perbatasan Depok itu. Puas menghirup udara sejuknya, kurang afdhol kalau belum mencicipi pecel dengam sambal yang lumayan enak di tempat itu.
Ia tersenyum, membaca gerak Spanyol yang resmi mengukir sejarah dengan menjuarai Piala Dunia FIFA 2026 usai menundukkan Argentina 1-0 pada partai final. Kemenangan tipis itu memastikan La Furia Roja kembali mengangkat trofi paling bergengsi di dunia sepak bola untuk kedua kalinya, setelah penantian panjang sejak 2010.
Penantian panjang. Ya, Ini mengingatkan dirinya juga saat masa begitu susah dulu. Kini, sesekali memang masih susah. Tapi tak sesering, sesusah dulu. Begitu dinamika hidup. Konon, dirinya sadar atau tidak sadar, bisa selamat karena menjalani beberapa laku ini.
Pertama, sareh (tenang). Ada masanya, ketika hadapi hidup begitu panikan. Alih-alih satu persatu problem hidup terselesaikan, hasilnya malah berantakan. Darinya, ia belajar tentang ketenangan. Hadapi setiap masalah, menyikapi dengan tenang. Pikirkan matang, satu persatu diselesaikan dengan tenang. Begitu laku hidup yang ia coba pegang sampai sekarang.
Kedua, sumeh (senyum ramah). Biasanya, orang hanya mau senyum, ramah pada orang yang “di atas kita.” Karena dipandang kelak memberi perhatian, memberi jalan, memberi bantuan. Padahal, realita kadang tidak demikian. Orang-orang yang menolong kita saat kesusahan, terkadang yang senasib dengan kita. Makanya, dirinya mencoba untuk selalu sumeh pada siapapun. Terlebih, tentu pada keluarga, terutama anak-anak. Pikiran penuh masalah, penuh beban, tapi tak perlu ditampakkan pada anak-anak, tetep sumeh saja.
Ketiga, semeleh (pasrah). Selebihnya, setelah usaha maksimal, satu-satunya hal yang perlu dilakukan, ya semeleh saja. Pasrah akan hasilnya. Menerima apa yang diberikan “Gusti Pangeran”, Allah SWT. Sikap semeleh ini, memberikan kesiapan mental untuk meneri apapun pemberian dariNya diakhir usaha.
Sebagai orang Jawa, Mas Untung, sadar atau tidak sedang kerap melakukan hal itu. Namanya hidup, kadang bisa seperti itu, kadang tidak. Hanya, sepertinya, filosofi hidup demikian menarik juga. Sebagai semacam arahan hidup. Dan agama, khususnya Islam, sepertinya juga mengajarkan hal-hal demikian. Artinya, filosofi Jawa ini, selaras juga dengan agama. Jadi, apa salahnya dicoba.
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)