Hidup itu menyala (Urip Kui Urup). Kata-kata sederhana, tapi lumayan filosofis. Secara makna, falsafah ini mengajarkan bahwa hidup kita harus memberi manfaat dan menerangi orang-orang di sekitar kita, layaknya nyala pelita yang memberikan cahaya dalam kegelapan.
“Kelingan pesene Bapak.” Mas Untung menggumam pelan.
Ayahnya memang sebatas seorang petani biasa. Sekadar punya beberapa petak sawah untuk membiayai anak-anaknya. Tapi, alhamdulillah, bisa membesarkan anak-anaknya dengan pendidikan yang cukup. Saat jauh dirantau, pesan-pesan ayahnya selalu tergiang.
“Diwiwiti ati kang padhang,” begitu pesan ayahnya dulu. Yang selalu dikenangnya.
Ya, dimulai dengan hati yang terang. Tak mudah menyalakan hati yang terang. Hati yang jernih, bersih. Jauh dari iri, dengki. Hati yang memandang orang tanpa penghakiman sejak dalam pikiran. Tidak mengungkit-ungkit kisah masa lalu. Sebab manusia bertransformasi, berubah, dalam perjalanan mengarungi kehidupan.
Sebelum berusaha menerangi orang-orang, memang alangkah baiknya diawali dengan hati yang terang (ati kang padhang). Ati kang jembar, hati yang luas. Sungguh tak mudah. Tapi tetap bisa diusahakan.
Kabar baiknya, sebagai orang Jawa yang sudah tersentuh iman, menjadi seorang muslim, Mas Untung menjadi lumayan mudah menyerap beragam ilmu semacam itu.
Di mana, dalam pemahamannya kecilnya, kelapangan dan keluasan hati adalah bagaimana hati dirawat setiap hari melalui pilihan, kebiasaan, dan amalan yang meluruskannya kembali. Sebab hati kita memang perlu dituntun agar tidak tersesat oleh dunia.
Bagi seorang muslim Jawa, kelapangan keluasan hati bisa tumbuh saat kembali menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan. Saat sandaran hati diluruskan, beban hidup tidak lagi kita pikul sendirian.
“Urip kelawan pepadhanging Gusti” Hidup dengan penerangan Allah. Itu awal mulai segala sepak terjang mengarungi kehidupan terang di dunia. Begitu ia kembali teringat dengan pesan ayahnya.
Tiiba-tiba Mas Untung, orang perantauan Jawa itu bergumam.
“Marai pingin mbalik kampung”. Jadi ingin pulang kampung.
Sementara itu, dirinya menyadari sudah lama juga duduk di teras rumah.
Lalu, menghela napas panjang. Menghembuskannya pelan-pelan. Menutupnya dengan menikmati seruputan secangkir kopi terakhirnya.
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)