Sebagai orang kelahiran Magelang, tentu cita-cita Mas Untung layaknya seperti orang-orang. Para orang tua warga Magelang, biasanya merancangkan hidup buat anak-anaknya seperti ini. Satu hal yang utama, sekolah yang tinggi. Minimal jadi sarjana, setelahnya, prioritas utama tentu jadi PNS. Profesi yang sudah terbukti membuat nyaman bahkan sampai pensiun.
Kalau tidak, selepas SMK atau SMA ya masuk Akademi Militer di Magelang. Kelak jadi perwira TNI. Atau masuk Akademi Kepolisian (Akpol) di Semarang. Kelak menjadi perwira polisi. Kalau gagal, tentu menjajal bintara atau tamtama boleh juga. Yang penting tentara. Rata-rata begitu.
Mas Untung, awalnya juga kepingin begitu. Hanya, semua jalan itu gagal semua. Tepatnya, tidak berhasil. Ya sudah, ia lalu memutuskan kuliah di Jogjakarta. Selepas lulus, sejenak kerja kantoran. Tapi, tidak pernah betah.
Lalu menjajal bisnis. Gagal semua. Menyerah? Tidak.
Di sebuah mushola pom bensin. Dirinya merenung, kira-kira apa lagi yang bisa dikerjakan? Buntu. Kemudian, karena lelah pikir lelah fisik, ia coba rebahan. Belum ada satu menit rebahan.
“Mas, nggak boleh tidur di sini”
“Fiuuuuh” gumamnya pelan.
Ia ke luar dari mushola itu. Memacu motornya.
Kabar baiknya. Dalam perjalanan itu, ide ciamik datang.
“Aku bisa masak, masakan Jawa” gumamnya.
Maka, sekian bulan kemudian, berdirilah “Warung Jowo”. Benar-benar warung kecil, bukan semacam “Resto Mewah”.
“Sedjak 2000” itulah awal muka dirinya membuka bisnis itu.
Dicemooh keluarga, dihinakan, diremehkan, tidak dianggap. Itu diterimanya. Tapi, tetap dijalaninya. Kenapa? Karena ternyata menghasilkan juga. Ini yang disyukurinya. Narimo ing pandum, kata orang Jawa. Berarti “menerima dalam pembagian”. Konsep ini mengajarkan sikap ikhlas, lapang dada, dan penuh syukur atas segala ketetapan atau rezeki yang diberikan Tuhan, baik atau buruk, banyak maupun sedikit.
Kini, atas izin gusti Allah, “Warung Jowo” itu, masih “menghidupinya”, juga banyak keluarga lain.
“Nikmat Pangeranmu kang endi kang arep sira dustakake?”
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)