Alon-Alon Waton Kelakon

Mas Untung dan Bejo, asisten pribadinya, sama-sama orang Magelangan. Alias Wong Jawa Tengah. Hidupnya, disadari atau tidak, slow aja, alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal sampai tujuan). Beda dengan orang Jawa Timuran yang “sat set”. Kebetulan “ibuk”, istri Mas Untung orang Kediri. Pokoknya, kalau dia cepat ambil keputusan, apa-apa cepat, sat-set. Sementara, Mas Untung, suaminya, lebih banyak hidup pelan-pelan saja.

Selepas senja, sekira jam setengah lima, Mas Untung dan Bejo terlihat beraktivitas sambil ngobrol di halaman depan rumah. Yang satu sibuk menyirami tanaman sambil melekuk-lekukkan kawat merawat “bonsai” yang jadi klangenannya. Sementara, satunya sibuk mengangkat kotoran-kotoran di kolam kecil halaman rumah itu.

“Saget payu larang niku nggih Mas?”

“Mesti iso Jo”

Lalu, Mas Untung sedikit ngobrolin soal bonsai ini. Awalnya memang dikenal dari Bahasa Jepang “bon” yang artinya “pot” dan “sai” yang artinya “tanaman”. Hanya, dalam perkembangannya, hobi tanaman bonsai bukan sekadar seni mengerdilkan pohon di dalam pot, melainkan refleksi mendalam tentang kehidupan.

Ini mengajarkan filosofi kesabaran, keseimbangan alam, harmoni antara manusia dan lingkungannya, serta bagaimana keindahan sejati justru sering kali lahir dari proses tempaan dan rintangan.

“Perlu tahunan, mungkin malah puluhan tahun Jo mbentuk bonsai nganti jos koyo ngene iki”

Mas Untung melanjutkan cerita. Konon, bonsai dilatih untuk merepresentasikan bentuk pohon di alam liar dengan proporsi yang sempurna. Ruang kosong (negative space) antara cabang dan daun mengajarkan kita pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup.

Tumbuh kerdil di dalam pot, meliuk-liuk, dan dipangkas adalah proses yang menyakitkan bagi pohon. Namun, dari proses tersebut, tercipta karya seni yang sangat estetik. Ini merepresentasikan bagaimana manusia dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan indah setelah melewati berbagai cobaan hidup.

“Sampun pernah ditawar dereng Mas?”

“Uwis, sing iki (Mas Untung menunjukkan salah satu koleksinya), pernah diregani sekian puluh yuto ning ra tak kekke. Nggo klangenan wae Jo”

Namanya juga orang Jawa, kalau sudah bilang klangenan, memang susah. Mas Untung malah jadi teringat “Warung Jowo” yang dulu di rintisnya “Sedjak Tahun 2000.” Sudah cukup lama ternyata.

“Pokoke alon-alon waton kelakon,” gumamnya pelan.

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these