Selepas akhir pekan, datanglah hari itu. Hari yang cukup lengang bagi “Warung Jowo”. Biasanya, segenap energi terkuras di hari Sabtu-Minggu. Fase keramaian pengunjung, membludak. Semua bergerak, fokus dengan tugasnya masing-masing. Senin datang, lumayan agak slow.
Mas Untung, duduk di selasar “Warung Jowo”. Melepas pandang ke berbagai arah. Semua cukup terarah. Jadi, kali ini, tak perlu banyak bicara dengan para pegawainya.
Sementara, Bejo sedang izin.
“Mas nyuwun nganpunten, dinten meniko kulo off dulu nggih, tasih dereng fit”
Ya, kemarin sebelum pulang ke rumah, Bejo ngaku kepalanya agak kliyengan.
“Yo wis rapopo, gek ndang mari” pesan Mas Untung.
Dirinya, juga sayah. Tapi, ingat kata teman-teman seperjuangan dulu
Ora Obah Ora Mamah. Ya, sebuah filosofi “Wong Jowo” yang secara harfiah berarti “tidak bergerak tidak mengunyah (makan)”. Frasa ini bermakna kiasan bahwa seseorang harus bekerja keras atau berusaha jika ingin mendapatkan rezeki dan memenuhi kebutuhan hidup. Tetap harus terus bergerak agar dapur terus ngebul. Kata anak zaman sekarang.
Lumayan ngantuk, pingin rebahan, tapi diurungkannya. Ia berjalan menuju tempat wudhu. Menuju “Joglo Anakan”, tempat sholat para pengunjung “Wong Jowo”.
Sebagai orang Jawa Muslim, dirinya tetap menjalankan “Syariat”. Bukan sekadar “sing penting dadi wong apik” ala Kejawen.
Ora Obah Ora Mamah.
Selepas dhuha, terlihat membaca ebook-ebook yang dibelinya secara premium lewat Lynkid.
Lalu, mencoba menyapa teman-temannya via WA. Sekadar menanya kabar dan sesekali membalas WA Group untuk mengapresiasi teman-temannya. Ia percaya, berkabar itu, silaturahmi itu perlu. Tak hanya pas kalau lagi perlu.
Ora Obah Orah Mamah. Ya, terus bergerak. Upgrade diri, upgrate pengetahuan. Perluas pergaulan. Selebihnya, tetap berdoa.
“Duh gusti Allah kang murben dumadi, paringono pengayoman dateng kulo.”
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)