Soal gosip kafe dijadikan tempat “cuci uang” rupanya bukan omong kosong belaka. Tempo hari, berita itu santer disiarkan beragam media. Sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan digerebek polisi. Ditemukan brangkas berisi tumpukan uang. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya milyaran.
Kabar itu, berkat media sosial, sampai juga tertonton oleh Bejo, sopir pribadi Mas Untung. Pengusaha kita kali ini. Seperti biasa, langsung tanjap gas, diobrolkan disela-sela pengantaran menuju “Warung Jowo”, bisnis kuliner besutan Mas Untung
“Sampun midhanget dereng Mas, kabar terbaru?
“Opo”
“Niku lho, kafe sing digrebek polisi ting Jaksel”
“Wah kok update men kowe”
Bejo lalu sigap menceritakan kronologi kejadian tanpa ba bi bu. Menyatakan keheranannya. Bagaimana bisa uang sebegitu banyak tersimpan di kafe itu. Bejo mikir, ini orang “Kerjone opo” kok bisa menyimpan dan mengumpulkan uang sebanyak itu.
“Nek murni hasil penjualan kafe koyone ra mungkin Jo, akeh banget kui.” Kata Mas Untung
Tanpa melepas konteks pembicaraan, Bejo lalu curcol tipis-tipis. Cerita gimana temannya, seorang ojol yang semakin sulit cari penumpang. Cerita juga seorang HRD yang sekian tahun bekerja menyeleksi karyawan, sekarang malah ikut antri mencari pekerjaan.
Aslinya Bejo juga mau cerita kondisi dirinya. Hanya diurungkan, dia seperti teman-temannya, kerap merasa kesal dengan pemberitaan-pemberitaan semacam ini. Tapi, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sakjane pripun niki Mas?”
“Becik ketitik, olo ketoro Jo,” sambung Mas Untung singkat.
Dalam, filosofi Jawa Jawa becik ketitik olo ketoro adalah segala perbuatan, baik yang bernilai kebaikan maupun keburukan, pada akhirnya akan terlihat atau terbukti. Pepatah ini menjadi pengingat bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, entah cepat atau lambat.
“Warung njenengan mboten cuci uang to Mas?” ungkap Bejo polos.
“Walah”
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)