Namanya dokter Jaka Suganda, penemu “Elemind Genius Mapping”. Elemind sendiri adalah tes pemetaan pola diri yang membantu individu memahami cara berpikir, belajar, dan mengambil keputusan. Berbeda dari tes pada umumnya, hasil Elemind berupa profil pola diri yang dilengkapi insight personal yang aplikatif, bukan sekadar skor atau label.
Prosesnya dimulai dari pengisian assessment, dilanjutkan analisis pola, hingga penyajian hasil yang bisa disertai sesi penjelasan bersama advisor. Seluruh proses hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit. Saya ikut jalani tes di sebuah hotel bilangan Tebet, Jakarta. Ngapain ikut-ikutan beginian? Entah. Saya hanya menyukai hal-hal baru, termasuk tentu saja temuan baru anak bangsa. Selain itu, kebetulan saya diberi amanah jadi editor buku “Elemind” edisi pertama itu.
Konon setiap jiwa punya “Cetak Birunya”. Pertanyaannya, bagaimana cetak biru saya? Ini jawabannya yang saya dapatkan dari tes itu.
Hasilnya, seperti ini. Saya digolongkan sebagai orang dengan profil arketipe sebagai “The Expert: Logam Profunda”. Karakter dan deskripsinya, seorang pemikir mendalam yang menguasai bidangnya dengan presisi tinggi. Kekuatanmu tumbuh dari kesungguhan merenung dan ketepatan menganalisis. Standarmu tinggi karena jiwamu menuntut kebenaran, bukan pengakuan.
Penjelasannya, profunda sendiri berasal dari Bahasa Latin, berarti “Yang menyelam ke dalam”. Jika otak manusia adalah samudera, maka Logam Profunda adalah penyelam yang tidak pernah puas berenang di permukaan. Ia harus turun jauh ke bawah, ke tempat di mana tekanan besar dan cahaya tidak masuk karena di sana tersimpan apa yang ia cari: Kebenaran yang tidak bisa ditemukan di permukaan.
Seseorang dengan cetak biru begini, katanya “Di Tempat Kerja” Ia secara natural tertarik pada pekerjaan yang membutuhkan kedalaman: Riset, analisis data, audit, penulisan, hukum, pemrograman. “Dalam Hubungan Pertemanan” “The Expert” tidak mengumpulkan teman. Ia mengkurasi mereka. Lingkaran sosialnya kecil namun koneksinya sangat dalam.
“Sisi Terang: Ketika The Expert Bersinar”. Integritasnya tidak bisa dibeli, ia hanya mengatakan apa yang sudah ia verifikasi kebenarannya. Ke dalaman analisisnya tidak tertandingi: Ia melihat pola yang tidak terlihat orang lain dan mendeteksi kesalahan yang lolos dari radar semua orang. Sementara, “Sisi Gelap: Ketika The Expert Menjadi Beracun”. Ia berubah menjadi hiperkritis yang tidak pernah berhenti menghakimi segalanya, termasuk dirinya sendiri. Kadang, hidup menjadi serangkaian rencana yang sangat matang namun tidak pernah dieksekusi.
Ia, untuk berproses bisa berevolusi. Di level 1 “Sang Hakim yang Kesepian” yang sering berkata “Tidak ada yang bisa diandalkan kecuali diri saya. Level 2 “Insan Arif: Sang Hakim yang Mulai Meragukan Vonisnya” dengan berkata “Mungkin saya terlalu keras terhadap mereka dan terhadap diri sendiri. Sampai Level 3 “Insan Sholih: Sang Bijaksana yang Tegas dan Penuh Kasih” sampai bisa berkata “Kebenaran itu keras. Tapi cara menyampaikannya tidak harus demikian”. Sementara, lingkungan “The Expert” yang paling optimal di lingkungan yang tidak diganggu, di mana ia bisa mengendalikan tingkat stimulus dan memastikan tidak ada interupsi yang memutus rantai pikirannya.
Untuk orang-orang di sekitar “The Expert”. Jika ia tampak “Menarik Diri” setelah hari yang panjang itu bukan penolakan. Itu adalah proses biologis yang ia butuhkan untuk kembali ke kapasitas optimal. Berikan ruang itu dan ia akan kembali dengan versi terbaiknya. Kalau diteruskan, tentu akan panjang “Analisisnya” dari tes itu.
Tapi, seperti kata penemunya, hasil tes ini gunakan saja seperti cermin. Untuk melihat diri sendiri. Setelah ikut tes ini. Ternyata, aplikasinya lebih dahsyat dari bukunya. Setidaknya, saya menjadi punya gambaran atas cermin diri. Semacam cetak biru yang sudah diberikanNya. Selebihnya, tinggal pandai-pandai saja membawa diri, mendudukkan diri pada posisi yang seharusnya. Ini sekadar cerita sepintas saja. Kalau ada yang tertarik, boleh nanti saya lanjutkan ceritanya. []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)
NB: Foto saat peluncuran buku “Elemind” di Hotel Cityloog Tebet, Jakarta