Intelektual Saja Tak Cukup, Bung !

Di perpustakaan pribadi Prof.Salim Said , sekian tahun lalu.

“Yons, pintar saja nggak cukup, kita harus pintar berkawan,” katanya.

Ya, rumah itu lumayan lebar, berada di komplek perumahan wartawan. Saat itu saya masih jomlo. Bekerja pada sebuah lembaga riset dengan Prof.Salim Said sebagai Direktur Eksekutifnya. Kalau liburan, Sabtu atau Minggu, sering datang dan nginap ke rumah beliau. Tidur di perpustakaan itu dengan koleksi buku ribuan. Berbahasa Ingris maupun Indonesia. Saya tentu girang berada di tempat itu.

“Kalau laper ambil aja makanan di kulkas Yons”

“Siap Prof”

Banyak cerita dari tempat itu. Sosok ini kemudian dikenal sebagai ilmuwan politik dengan analisis yang tajam. Walau, sebagai orang yang aktif di kebudayaan, pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuatnya fasih juga bicara kebudayaan, termasuk film di dalamnya. Kuliahnya panjang dan berliku. Pernah kuliah 5 tahun di Psikologi UI tapi tak tamat, mulai 1963-1968. Kuliah lagi di Sosiologi, baru lulus tahun 1977. Artinya, butuh 14 tahun untuk dapar gelar S1. Sementara itu, kariernya, beliau salah satu pendiri Majalah Tempo dan kemudian bekerja untuk majalah itu.

Kabar baiknya, bisa lanjut S2 dan S3 di Ohio University, lulus tahun 1985. Sebagai pendiri Tempo, dirinya membayangkan, kelak setelah jadi Doktor, bakal pulang ke Indonesia dan berniat menjadi, kira-kira “Kepala Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) majalah itu. Sayang, tak sesuai harapan. Konon, Goenawan Mohamad selaku pimpinan membolehkan masuk Tempo tapi meniti karier dari bawah lagi.

Salim Said meradang. Singkat cerita ke luar dari Tempo. Setelah itu, hubungan dengan Goenawan Mohamad tidak baik-baik saja. Padahal, ada sebuah cerita “Dulu kubonceng Goenawan naik motor vespa butut buat dapatkan SIUP Majalah Tempo” ceritanya mengenang persahabatan itu. Diam tak saling kontak, tak saling bicara. Ada cerita lucu, saat kebetulan sama-sama kunjungan ke Amerika, pernah satu lift tapi tetap tak saling tegur sapa. Tetap begitu sampai akhir hayatnya.

Maka, sosok in kemudiani terus menulis. Menjadi kolumnis, menulis buku. Begitu juga mencoba mengajar. Mulai dari Sesko TNI, kampus-kampus negeri sampai menjadi Guru Besar dan mengajar di Universitas Pertahanan. Hanya, kabar kurang baiknya, gaji (pendapatan) yang diterimanya tetap saja kurang mencukupi. Maka, atas pertemanannya dengan Prof. Jimly, dibuatkanlah sebuah Lembaga riset dengan beliau sebagai Direktur Eksekutif sampai jelang akhir hayat. Sebuah lembaga dengan sponsor pihak lain (pengusaha), tentu saja.

Begitulah sosok ini. Kawannya beragam. Mulai dari perwira-perwira TNI awal muridnya yang kelak menjadi “Jenderal-Jenderal,” kawan-kawannya sesama ilmuwan atau akademisi, kawan-kawannya di kebudayaan, sampai pejabat-pejabat yang dikenalnya. Menjadi semacam jembatan sosok ini terus berkiprah, berkarya untuk bangsa. Setidaknya, hidup menjadi lebih tenang dengan istrinya. Satu satunya orang di rumahnya karena anak-anaknya semua di luar negeri. Hidup hanya berdua saja di usia senjanya. Dibantu “Pak Mur”, sopirnya sekaligus berperan sebagai semacam “Pembantu Umum”.

Dari sini, kita sama-sama ambil pelajaran. Memang, “Intelektualitas Saja Tak Cukup, Bung !” kata “Bung” sering diucapkan Prof. Salim untuk menyapa kawan-kawannya. Istilah yang sudah agak jarang dipakai sekarang.

Gelar S1 sampai S3, jadi ilmuwan dan orang pintar di bidangnya masing-masing tetap perlu, tapi tak cukup. Kudu pandai-pandai berkawan. Ini sepertinya yang membuat kiprah seseorang tetap terus berkembang dan mendapatkan tempat. Rupanya, ilmu menyesuaikan dengan keadaan, diperlukan juga. Bung Salim, mengajarkannya pada kita. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these