Apakah rezeki itu ada algoritmanya? Saat saya longok, ternyata sudah ada buku yang membahasnya. Karangan Rusdin Rauf, judulnya “Algoritma Rezeki”. Saya belum sempat membelinya. Hanya sempat membaca sekilas resensinya saja. Konon, buku ini diperuntukkan bagi mereka yang sedang ingin memperbaiki mindset finansial, memperdalam nilai spiritual, dan mencari panduan praktis untuk membuka pintu-pintu rezeki yang berkah.
Saya juga longok diri. Sebut saja saya seorang penulis, bagaimana algoritma rezeki seorang penulis bekerja? algoritma rezeki sendiri, sering diartikan sebuah konsep yang mengibaratkan rezeki seperti cara kerja algoritma: ada pola, sebab-akibat, dan langkah sistematis yang konsisten untuk menarik kelimpahan. Sebagai seorang penulis, tentu saya sedikit tahu pola kerjanya. Tapi, bagaimana kalau kita upgrade pemahaman dari guru atau senior? Boleh juga.
Sejak muda, saya terbiasa mendatangi guru, dosen, atau professor-profesor dibidangnya. Kalau untuk penulis, kira-kira siapa ya yang bisa saya gali ilmunya, terutama dalam soal algoritma rezeki penulis? Pilihan jatuh pada nama Cahyadi Takariawan, seorang penulis asal Jogjakarta. Kebetulan sosoknya bakal buat acara di Jogja, sementara saya juga pas sedang ada acara di Jogja waktu itu. Maka, berangkaaaat.
Sebelumnya, saya pernah “riset”, kira-kira berapa pendapatan yang layak untuk bisa hidup di Jakarta? Dulu banget, sekira awal hidup di Jakarta. Sekira tahun 2008, seorang “Pakar Finansial” Yodhia Antariksa, dalam blog Strategi Manajemen menyimpulkan. Kalau menghitung biaya sehari-hari, Pendidikan anak, transportasi, komunikasi, kredit mobil, kredit rumah. Minimal harus menghasilkan 15 juta/bulan. Itu dulu. Sekarang, dengan kebutuhan dan harga-harga yang semakin mahal, tentu perlu penyesuaian. Seorang “Influencer” bilang, untuk bisa “Financial Freedom” kalau bisa punya penghasilan 30-40 juta/bulan. Lebih besar tentu lebih baik. Itu sarannya.
Apakah seorang penulis mampu? Kita lihat.
Penginapan saya di Malioboro, sementara acara sosok itu di “Mbantul”. Lumayan jauh. Sekira 45 menit perjalanan naik gojek motor. Saat saya datang, acara sudah mulai. Acaranya, bedah buku karya Dr. Akbar Setiawan, berjudul “Everyone Can Write”. Buku tentang proses kreatif menulis ala Pak Cahyadi Takariawan. Saya datang tentu tujuannya bukan untuk tahu itu. Tapi, menemukan jawaban satu pertanyaan saja. Apakah bisa hidup dari menulis?
Kesimpulannya. TIDAK, kalau hanya mengandalkan royalty buku. Padahal, beliau sudah menulis lebih dari 100 buku. Hanya, menjadi “Bisa Hidup” kalau ditopang dengan hal-hal lain, walau masih terkait dengan kepenulisan. Misalnya, menjadi pembicara seputar teknik kepenulisan. Juga menjadi narasumber atas buku-buku yang ditulis. Buku-buku yang memfokuskan diri pada tema “Parenting Keluarga Islami”. Sampai kini, beliau masih menjalani karier semacam itu.
Sampai di sini, saya belum menemukan jawaban yang pasti perkara algoritma rezeki penulis ini.
Satu yang pasti, perkara menulis dan menjadikannya sebagai profesi ini memang sebuah pilihan. Sama seperti “passion” misalnya menjadi guru. Bayangkan, umpamanya menjadi guru honorer dengan gaji 300 ribu/bulan tapi tetap mau menjalaninya. Kenapa masih mau melakukannya? Sulit dijelaskan, kecuali memang alasan “passion” atau dalam bahasa yang mudah diterima, pengabdian. Untuk bisa hidup layak, tetap mengerjakan hal-hal selain mengajar.
Saya sendiri sudah memutuskan menjalani profesi sebagai penulis. Memang, tak melulu hanya menulis. Tapi, sembari mengelola usaha beda selain murni menulis. Seperti media dan agensi komunikasi. Kenapa memilih menjadi penulis? Ya karena ini salah satu keahlian yang bisa saya andalkan dan saya senang menjalaninya. Perkara hasil, asalkan produktif berkarya, rezeki ada saja.
Algoritma rezeki penulis tergerus AI, bagaimana solusinya? Saya tidak terlalu khawatir. Orang nanti juga bakal mengerti, misalnya mereka yang jarang sekali menulis, tiba-tiba produktif menghasilkan artikel-artikel ciamik, analisis canggih, tanpa salah ketik sedikitpun, bisa dipastikan itu diproduksi dengan AI. Biasanya, entah itu karya tulis, desain, atau video, kalau diproduksi dengan AI biasanya menjadi “tidak ada harganya”.
Itu sebabnya, saya masih bertahan tidak gunakan AI ketika menulis. Seperti tulisan ini, sepenuhnya alias 100% karya sendiri, non AI. Agar bisa tetap punya ciri khas, sentuhan pengalaman pribadi, memberikan konteks atas setiap pembahasan, juga referensi yang benar-benar sudah kita baca dan dalami, menjadi kekayaan dan pembeda dari karya-karya berbasis AI. Kini, biarkan algoritma rezeki penulis bekerja. Tugas saya, setiap hari menulis dan hasilkan karya. Itu saja. []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)