Sejak sekolah sampai kuliah, saya sangat suka membaca. Buku apa saja saya baca. Ketika sekolah, saya sangat suka menyendiri di perpustakaan atau berburu buku-buku bekas di pasar Rejowinangun Kota Magelang. Saat kuliah, karena kampus kita jarang ada toko buku, kita sering ngebolang ke Jogjakarta. Nongkrong di “Shopping Center”, sentra toko buku Jogja yang kini lebih dikenal dengan daerah “Taman Pintar”. Sesekali, naik kereta ke Solo, melongok toko buku bekas di pinggir Taman Sriwedari.
Entah berapa lama waktu sudah saya habiskan untuk membaca dan berburu buku-buku. Sia-sia? Tidak. Mungkin, layaknya orang Jakarta, selalu mengaitkan tradisi membaca dengan umpamanya kesejahteraan finansial. Bisa jadi, banyak penelitian tentang relasi ini. Tapi, terus terang dulu kurang begitu menaruh perhatian terhadap masalah ini. Kecuali, beberapa waktu belakangan.
Tom Corley, pernah menulis buku berjudul “Rich Habits: The Daily Success Habits Of Wealthy Individuals”. Buku ini hasil sebuah penelitian. Hasilnya, diantaranya, Corley menemukan kebiasaan membaca buku yang berbeda dari kedua kelompok responden yang ditelitinya. Yang mana, orang miskin akan membaca buku hanya untuk hiburan, sementara orang kaya membaca buku untuk mengembangkan diri.
Menarik juga. Tanpa saya sadari, ada kemungkinan saya terjebak di sini, membaca lebih banyak soal kesenangan (pleasure) semata. Soal untuk pengembangan diri, atau mungkin lebih spesifiknya bagaimana buku-buku bisa menjadi rujukan pengambilan keputusan, belum menjadi prioritas. Hal ini, tentu dengan sadar diri, dan kerendahaan hati, menjadi semacam koreksi bagi diri sendiri.
Kalau mengingat roda kehidupan, saya kadang juga merenung. Bagaimana buku bisa memberikan warna bagi kehidupan. Saya memang cukup puas, bagaimana buku-buku yang saya baca, setidaknya memberikan warna dalam pergaulan kehidupan saya. Bisa mengimbangi. Umpamanya Ketika bergaul dengan sosok-sosok “Intelektual”, orang-orang kampus, juga tokoh publik. Apa jadinya kalau saya tak membaca? Sudah pasti hanya bisa plonga-plongo menyaksikan pembicaraan tanpa ada kontribusi pemikiran.
Dari situ, bolehlah saya katakan “Saya Membaca Maka Saya Ada”. Setidaknya, dengan penafsiran sederhana, bagaimana tradisi membaca setidaknya terus bisa memberikan kontribusi kehidupan (pergaulan). Setidaknya, sedikit kontribusi pemikiran yang mencerahkan.
Tantangan pribadi, di tengah dunia yang konon semakin sulit ini, boleh juga fokus bagaimana aktivitas membaca juga berkontribusi pada pengambilan keputusan dalam bisnis maupun kehidupan secara umum. Agar kesejahteraan (finansial) turut serta di dalamnya. Ini tantangan besar. Selebihnya, biarkan membaca sebagai langkah membentuk sikap hidup, agar bisa memandang dunia dengan cara yang berbeda. []
“SELAMAT HARI BUKU”
Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. Pendiri Brandstory.id