Jalan Untuk Kebahagiaan

“Di Manapun Engkau Ditanam, Tumbuhlah”

Untuk bahagia, banyak ragam jalannya. Mereka bisa mencari jalan sendiri untuk membahagiakan dirinya, apa yang membuatnya bahagia, lakukan, tanpa perlu memerhatikan batu pijakan apapun. Ada yang mencari jalan kebahagiaan lewat agama. Ada yang berhasil, ada yang juga malah tertipu karena pemahaman tafsir keagamaan yang keliru. Hasilnya, dituntut untuk selalu terlihat tampak bahagia, padahal aslinya sengsara.

Saya sendiri lebih suka mencari jalan kebahagian secara filosofis, walaupun sebagai seorang muslim, sudah pasti irisan doktrin dan nilai-nilai KeIslaman itu juga hadir tak terelakkan. Mungkin, ada yang bilang kalau kebahagiaan itu relatif, tidak ada standar yang betul-betul bisa mengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Boleh saja ada yang berpendapat begini, tapi ada baiknya tak berhenti di sini.

Untuk itu, perspektif filosofis bisa membantu kemandekan pikir ini. Pada titik ini, kita perlu membedakan apa yang dimaksud kebahagiaan secara formal maupun kebahagiaan secara substansial. Fakta bahwa kriteria dan isi dari kebahagiaan berbeda-beda untuk setiap orang tidaklah dapat dibantah. Jadi di tataran substansial kebahagiaan itu sifatnya relatif.

Tapi di tataran formal yakni bentuknya, setiap orang yang bahagia pasti adalah orang-orang yang telah mencapai tujuan hidupnya, atau minimal sedang melangkah secara benar untuk mewujudkan tujuannya itu. Sepertinya, inilah rumusan yang bersifat universal, yakni berlaku untuk siapapun, kapanpun, serta di manapun.

Untuk lebih lengkap, boleh juga kita sodorkan sedikit perspektif psikologi. Umpamanya, para penganut “Authentic Happiness” sering menggambarkan bahwa kebahagiaan adalah kondisi yang tercapai melalui tiga dimensi utama: kehidupan yang menyenangkan (pleasant life), kehidupan yang baik (good life), dan kehidupan yang bermakna (meaningful life).

Seperti yang saya singgung di judul, kali ini saya masih setia menjalani kehidupan untuk kebahagiaan di jalur filosofis itu. Untuk mencapai tujuan hidup, satu hal yang diperlukan hanya menanam. Bekerja sebaik mungkin di hari ini. Sederhana, tapi banyak tarsirannya. Hanya intinya, bekerja secara baik dan benar penuh dedikasi. Karena ini sedang melangkah benar untuk mewujudkan itu, sebenarnya kita sudah dalam fase yang seharusnya bisa merasakan kebahagiaan.

Dan, tentu nanti ada kebahagiaan lain yang berbeda ketika kita benar-benar berhasil mencapai tujuan hidup kita. Baik jangka pendek maupun jangka panjang. Satu lagi untuk melengkapi filosofi diri. Di mana engkau ditanam, tumbuhlah. Cukup ini saja.

Yons Achmad

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these