Alumni “Pondok Gratisan” Tanpa Kisah Pelecehan

Saya alumni “Pondok Gratisan”. Tepatnya, alumni Pondok Al-Ichsan, Wates, Magelang. Saat SMA, saya diterima sekolah di kota, tepatnya SMA Begarlist. Sebuah SMA negeri di Kota Magelang. Sedangkan, saya tinggal di kampung, Kabupaten Magelang. Untuk sampai ke sekolah, saya harus naik angkot ke Blabak, nyambung bus Ramayana jurusan Jogja-Semarang turun terminal Soekarno-Hatta, nyambung lagi angkot jurusan Kebon Polo. Melelahkan gaes.

Seorang kawan ajak saya mondok saja. Gratis. Pondok pelajar. Belajarnya pagi, sore, malam. Siangnya boleh sekolah umum. Baiklah, saya masuk. Gelagapan. Maklum awalnya saya sekolah di Yayasan Katolik. Baca Al-Quran belum bisa. Singkat cerita, di pondok itulah saya belajar Al-Quran, Nahwu-Shorof ala kadarnya, dan beragam tradisi serta ritual khas pondok NU.

Pondok itu memang pondok gratisan, santrinya tidak bayar. Memang tak banyak, hanya sekitar 40 sampai 60-an orang saja santrinya selama saya mondok di situ selama tiga tahun saat SMA. Tapi, walau gratisan kami melihat betul dedikasi para pengajarnya. Kami diajar oleh Gus-Gus muda dan satu kiayi sepuh sebagai pengasuh.

Kini, para alumni pondok pelajar itu menyebar ke berbagai pelosok negeri. Ada yang jadi tentara, pengusaha, ASN, dosen, Lawyer dan beragam profesional lainnya. Para alumninya, kami berkumpul kembali setahun sekali. Setiap malam lebaran ketiga setiap tahunnya. Saling berbagi cerita, saling berbagi beragam hal lainnya. Persaudaraan yang lumayan menyenangkan.

Sesekali, sambil mengenangkan kembali kenakalan-kenakalan layaknya anak pondok. Umpamanya, kami pernah ketahuan nonton bioskop “film Panas” dengan bintang Sally Marcelina dan Febby Lawrence, menggoda dan memacari anak tetangga yang berada tak jauh dari pondok, merokok (kalau ini dulu hampir semua merokok walau guru dan kiayi kami tak ada yang merokok). Kabar baiknya, tak ada cerita bullying (perundung), tak ada perilaku menyimpang atau pelecehan seksual.

Jadi, pondok gratisan belum tentu jadi modus kiayi untuk berbuat sesuka hati. Tergantung para guru dan pengasuhnya. Satu hal yang kami tahu, para guru, ustaz dan kiayi kami dulu, beliau masing-masing punya pekerjaan. Rata-rata bekerja jadi ASN di departemen agama. Jadi, sepertinya, mengajar di pondok, boleh dibilang “Kerja sosial”. Meneruskan amanah ayahanda yang sudah membangun pondok pelajar itu.

Kini, atas maraknya pemberitaan kasus pelecehan seksual di pondok, mungkin ini berita miris dan memprihatinkan. Tapi, bagaimanapun juga, sesebentar apapun mereka yang pernah mondok, pasti punya “value” dan “Prinsip hidup” sendiri yang khas.

Betapapun “bengalnya” alumni pondok, kelak, tentu akan kembali ke “masjid” kembali ke “Jalan yang benar”. Darahnya adalah “darah Santri” dan mereka akan tahu ke mana akan kembali.

Yons Achmad.

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these