Filosofi Hijrah untuk Transformasi Diri

Bagi Nabi Muhammad, hijrah pada awalnya adalah perintah Allah, perintah Tuhan. Dan, Nabi Muhammad beserta para sahabatnya melakukannya. Di dalam perspektif sejarah, momentum hijrah dari Makkah ke Madinah adalah langkah awal strategis bagi kebangkitan Islam yang kemudian ajarannya menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kini, beragam spirit hijrah kemudian digali hari demi hari.

Sebelum saya juga coba gali spiritnya, dalam perspektif peradaban, Madinah sendiri melambangkan suatu kota (city) yang modern. Madinah juga melambangkan sebuah peradaban yang modern (modern civilization). Pengubahan nama Yatsrib menjadi Madinah sendiri sepertinya bukan perubahan artifisial (dibuat-buat), tapi penuh makna. Madinah, kemudian kita kenal sebagai Madinah Al Munawwarah, kota yang tercerahkan, “Enlightened City.”

Pemikir dan Sosiolog Amerika, Robert N Bellah dalam “Beyond Belief” mendekati fenomena hijrah ini dengan dengan istilah “Habits of the mind and habits of the heart”. Yaitu sebuah hijrah dari Makkah ke Madinah yang melibatkan pikiran dan hati sekaligus. Semuanya itu, saya kira berangkat dari sebuah cita-cita yang besar. Demi terwujudnya sebuah tatanan dan persatuan umat yang berbasis tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah (cara hidup) mewujudkan semacam universe prosperity (kesejahteraan semesta).

Bagi mereka yang mengaku muslim, bagaimana sebenarnya makna hijrah teresapi dengan baik bagi dirinya sekarang? Saya kira, ini menarik perhatian. Bagaimana seorang muslim, memetik momentum historis ini dalam konteks kekinian? Saya coba bangun relevansi bagaimana kita melakukan telaah filosofis atas hijrah ini. Setidaknya, nantinya bisa berguna bagi transformasi diri.

Reza Wattimena, seorang pemikir filsafat pernah menulis buku menarik berjudul “Teori Transformasi Kesadaran”. Menarik karena, selain kenyataan tak terbantahkan, orang Indonesia bahkan profesor sekalipun jarang ada yang membuat buku teori sendiri, penulis ini melakukannya. Dalam Teori Transformasi Kesadaran, dikatakan bahwa kesadaran adalah sebuah pengalaman. Ia bisa juga disebut sebagai pengalaman sadar (consious experience) dan pengalaman kehidupan (living experience).

Dalam Teori Transformasi Kesadaran ini, diperkenalkan apa yang disebut dengan “Kesadaran holistik kosmis” (holistic-cosmis consciousness). Di sini, manusia melihat dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dengan segala yang ada. Aku adalah semesta, dan semesta adalah aku. Manusia dilihat sebagai warga semesta bersama dengan segala bentuk kehidupan lainnya. Di sini muncul rasa cinta universal terhadap segala yang ada. Di sini muncul kesadaran akan kesalingbergantungan dari segala sesuatu. Karena segalanya satu, apa yang terjadi pada satu mahluk akan memengaruhi seluruh semesta. Ini kiranya sejalan dengan ide dasar dari fisika kuantum tentang keterkaitan, atau entanglement.

Di sini, saya kira, yang muncul kemudian adalah keseimbangan kehidupan. Dari kesadaran demikian, saya kira menjadi modal manusia untuk tidak serampangan dalam hidup. Ia adalah semesta. Seperti biasanya, kerusakan-kerusakan di muka bumi disebabkan karena individu yang gagal paham dalam memahami kehidupan. Begitu juga, berawal dari pikiran dan sikap hidup yang serampangan terhadap alam semesta. Akibatnya, kerusakan demi kerusakan terjadi. Kesadaran diri, pada akhirnya, saya pikir, bisa membantu manusia untuk bisa hidup selaras dengan kemanusiaan itu sendiri, alam semesta dan tentu saja dengan Allah, Tuhan semesta alam.

Hijrah sendiri, saya kira sangat dekat dengan spirit transformasi diri ini. Terkait sebuah perubahan yang hendak dicapai. Tentu sebuah tatanan yang lebih baik dari sebelumnya. Terkait dengan transformasi diri, bagaimana spirit hijrah ini bisa kita mulai sebagai upaya memperbaiki diri sendiri? Kita, bisa memulai dari merenunginya dengan jalan hijrah semacam ini secara maknawi. Diantaranya dengan pemahaman berikut ini:

Pertama, hijrah fikriyah (Hijrah pemikiran). Pendidikan sekuler kita hari ini telah melahirkan pemikiran yang dikotomis. Misalnya memisahkan atau mengkategorikan ilmu agama dan ilmu umum. Bahkan, yang disebut ilmu umum itu dipaksa lepas sama sekali dengan agama. Semuanya disebabkan karena dominasi filsafat barat yang menghegemoni pendidikan. Hal ini berangkat dari dua kutub pemikiran. Plato dengan rasio (akalnya) dan Aristoteles dengan empiri (pangalamannya). Terombang-ambing saja diantara dua itu, hasilnya adalah ilmu pengetahuan sekuler. Tidak hadir atau dihadirkan wahyu (Al-Quran) di sini. Hijrah pemikiran, saya kira mesti mulai dari sini.

Semula, kita menempatkan akal, nalar, rasio dan pengalaman (empiris) untuk menafsir realitas. Kehadiran wahyu bisa bermakna keduanya sekaligus. Bagaimana menghadapkan wahyu (Al-Quran) pada realitas sosial. Atau sebaliknya, wahyu (Al-Quran) ditempatkan sebagai sumber bagi terbentuknya konstruksi sosial. Terkait pemikiran ini, banyak yang berkesimpulan umat Islam bakal maju kalau berpikir kritis. Terhadap beragam hal. Saya kira tak cukup, yang lebih penting adalah bagaimana menghidupkan kultur baru pemikiran profetik (berkenabian) seperti yang kita singgung secara singkat di atas. Sebuah transformasi pemikiran profetik (berkenabian) ini, yang menghadirkan wahyu di dalamnya, bakal berpengaruh pada transformasi diri berikutnya.

Kedua, hijrah syu’uriyyah (Hijrah cita rasa). Dunia tidak berjalan begitu saja. Ada yang menggerakkan. Dalam level global, salah satunya digerakkan oleh strategi kebudayaan suatu bangsa. Sementara, bangsa lain kerap menjadi korbannya (pasarnya). Sementara, Indonesia sendiri tidak punya strategi kebudayaan. Itu sebabnya, ketika produk-produk kebudayaan semacam hollywood (Amerika), Bollywood (India), Kpop (Korea), Jpop (Jepang) merangsek masuk, ketahanan budaya kita tidak tampak. Itu semua karena memang identitas kebudayaan manusia Indonesia tak benar-benar digali atau diresapi. Begitu juga identitas keislaman muslim Indonesia.

Hasilnya, sekian lama, kebudayaan semacam itu yang kental. Di tengah dominasi dan hegemoni kebudayaan semacam ini, apakah hijrah semacam ini bisa dilakukan? Sebuah perpindahan dari hobi, cita rasa kebudayaan yang melenakan, jauh dari nilai-nilai tauhid seperti beragam nyanyian yang penuh keputusasaan, begitu juga gaya hidup atas pemujaan terhadap materi yang berlebihan. Saya kira, lemahnya culture defence (ketahanan budaya) ini menjadi menarik sebagai medan transformasi demi sebuah kehidupan yang lebih maknawi, bukan duniawi. Hijrah kita di level ini butuh terobosan yang berani karena bakal menciptakan arus baru.

Ketiga, hijrah sulukiyyah (Hijrah laku). Pada akhirnya, inilah tantangan transformasi paling penting. Layaknya, misalnya orang-orang di luar Islam, mereka menilai Islam bukan dari doktrinnya, tapi dari perilaku umatnya. Itu sebabnya, suluk, tingkah laku, kepribadian, adab tak terpisahkan dari umat Islam itu sendiri. Di sini, Ta’dib, sebuah konsep Pendidikan Islam yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang bertujuan mencetak manusia beradab saya kira perlu dipahami, diresapi dan dijalankan di tengah masyarakat yang tampaknya sedang kehilangan adab (the loss of adab).

Dalam laku ini, kalau kita amalnya konsep dari tokoh di atas, tak cukup misalnya “asal berbuat baik” saja. Tapi, lebih dari itu semua. Secara filosofis, orang beradab adalah orang yang menggunakan epistemologi ilmu dengan benar, menerapkan keilmuan kepada objeknya secara adil, dan mampu mengidentifikasi dan memilah pengetahuan-pengetahuan (ma’rifah)yang salah. Setelah itu, metode untuk mencapai pengetahuan itu harus juga benar sesuai kaidah Islam. Sehingga, seorang yang beradab (insan adabi) mengerti tanggung jawabnya sebagai jiwa yang pernah mengikat janji dalam “Primordial Covenant” dengan Allah SWT sebagai jiwa bertauhid.

Menelisik beberapa hal di atas, saya kira memaknai hijrah sebagai spirit transformasi diri tak mudah. Bagaimanapun juga, setiap tingkah laku, amal, perlu dilandasi dengan ilmu. Untuk sampai ke sana, sekali lagi tak mudah. Tapi, kabar baiknya semuanya itu bisa dimulai dari sebuah keyakinan. Tak lain tak bukan dikenal juga dengan istilah hijrah “i’tiqadiyyah” yaitu perpindahan dari keyakinan yang salah, rapuh, dan sesat kepada keyakinan yang benar, kokoh, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Corak keberagamaan yang berkenabian (profetik), pada akhirnya menjadi proses panjang pembelajaran. Hal ini, juga seperti halnya hijrah sendiri. Yaitu sebuah momentum permulaan, proses, bukan akhir sebuah kisah. []

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these