Saya mengisi ramadan kali ini dengan tiga hal saja. Membaca Al-Quran, membaca tafsir “Fi Zhilalil Quran” dan menulis puisi (profetik). Saya lebih banyak diam, melantunkan zikir, menghindari bercakap-cakap. Tak mudah, maka, salah satu jalannya, saya memilih surau kecil untuk salat (termasuk salat Tarawih). Di situ, saya bisa tenang. Kenapa? Saya tidak kenal jamaah di dalamnya. Jadi, nyaris tidak bercakap, hanya sekadar tersenyum sesama jamaah.
Surau kecil itu ada di tengah perumahan.
Jamaah tak terlalu banyak. Dikelola dengan apa adanya. Kadang imam tidak datang, kadang penceramah tidak hadir. Sering pula, soundsystem bermasalah. Kadang mic mati, kadang tiba-tiba muncul suara “Grak greek,” tak dibetulkan sampai salam tiba. Jamaahnya, juga didominasi orang tua.
Tak ada teriakan di surau kecil itu.
Selesai salat lima waktu misalnya. Tidak ada zikir yang keras. Semua diam. Berzikir lirih, pelan-pelan. Selepas isya juga begitu. Tak ada zikir yang keras. Menyambut salat Tarawih, diawali dengan ceramah singkat yang biasa saja, tidak ada yang baru, tidak dibawakan dengan cara lucu. Sekadar menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara polos.
Jumlah rakat Tarawih plus witir 11 rakaat.
Tapi, surau itu bukan surau milik Muhammadiyah.
Surau milik masyarakat umum saja sepertinya.
Sebelum tarawih, ada semacam kuis untuk anak-anak dan remaja. Memang, boleh dikatakan sepertiga jamaah diisi oleh mereka. Kabar baiknya, peserta anak-anak dan remaja itu tak berisik. Duduk tenang, hanya berbincang pelan secara wajar antar mereka.
Ketika salat semua salat, tidak ada yang bermain. Setiap pra Tarawih, ada lima pertanyaan (kuis) untuk mereka. Masing-masing mendapat Rp.20.000 rupiah bagi yang berhasil menjawabnya.
Saya menyukai surau kecil ini.
Secara tampilan, memang boleh dikatakan “masjid” tak besar. Tapi, lumayan cukup nyaman. Karpet-karpet bersih, AC dinyalakan jadi jamaah tak merasa kegerahan, air minum gelasan disediakan bagi mereka yang tiba-tiba kehausan. Singkat cerita, surau yang asyik.
Selain tiga hal di atas, saya memang masih ada beberapa pekerjaan lain pada ramadan kali ini. Tapi tak Istimewa. Layaknya orang kebanyakan yang masing-masing punya kerjaan sendiri sebagai rutinitas kerja bulanan.
Hanya saja, dengan kenikmatan atas ketenangan yang saya rasakan pada ramadan kali ini, tak ada kata selain rasa syukur pada Allah yang selalu saya lantunkan. Harapan, dengan ketenangan demikian, bisa lahirkan karya-karya terbaik yang bisa diluncurkan pasca lebaran. Itu saja. []
(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)
Foto: Ilustrasi