Akhirnya, buku tokoh politik itu bisa diluncurkan pada hari ulang tahunnya. Sekian judul buku terkait Sang Tokoh dibagikan gratis kepada para tamu undangan. Banyak pejabat yang hadir. Tak terkecuali Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga datang memberikan sambutan. Saya dan tim, salah satu yang bekerja di balik layar.
Memastikan satu judul buku yang dibagikan itu selesai. Bekerja tanpa nama, senyap. Nama-nama kami tidak tercantum. Tapi, itu bukan masalah. Sebagai “Penulis dan editor bayangan,” salah satu filosofi kami memang “Berani Tidak Dikenal”.
Tapi, kali ini, saya tidak akan bicara tentang kerja-kerja kreatif semacam itu. Saya akan bicara sedikit tentang “Orang-Orang Politik” di balik buku semacam itu.
Saat menulis dan mengedit kisah tokoh-tokoh politik, termasuk kesaksian (testimoni) kawan-kawan seperjuangannya diam-diam saya banyak belajar bagaimana mereka berkiprah, bekerja dan terus mendapatkan peluang kekuasaan. Segala macam cara dilakukan. Soal etika, biasanya memang nomor sekian.
Bayangkan ada politisi yang jadi anggota DPR selama 3-5 periode. Artinya, sangat mungkin 25 tahun berkarir sebagai politisi dengan jabatan “Yang Terhormat”. Tentu, dengan beragam gaji dan fasilitas menggiurkan.
Ada yang nasibnya, berawal jadi anggota dewan, lalu diangkat menjadi menteri. Tentu, jabatan anggota dewan maupun menteri begitu mentereng. Jabatan yang tak pernah kekurangan uang. bahkan, setelah mungkin selesai menjabat, kembali ikut pemilu dan jadi anggota dewan lagi pada periode berikutnya. Asyik betul ya kariernya.
Hanya saja, nasib baik tak selalu begitu. Ada politisi yang awalnya “nempel” pada tokoh politisi senior, akhirnya bisa jadi anggota DPR juga. Karier tak selalu mulus. Periode berikutnya gagal. Menyerah? Tidak. Kemudian cari peruntungan jadi bupati, berhasil. Tapi ada juga yang sudah gagal jadi anggota DPR, menolak menyerah, ikut kontestasi jadi bupati (walikota), gagal. Uang tabungan habis terkuras, utang di mana-mana.
Terlepas dari itu, saya coba tarik benang merah, kira-kira pelajaran apa yang bisa diambil dari “Orang-Orang Politik” ini. Satu yang bisa saya petik adalah jiwa “Petarungnya”. Mereka yang berhasil dalam dunia politik. Mendapatkan jabatan tertentu, biasanya memang “Jiwa Petarungnya” luar biasa.
Singkatnya, mereka yang punya kemampuan strategis berjejaring, kemampuan kalkulasi, berani tanggung risiko, hadapi konflik dengan tenang, begitu juga ketahanan terhadap tekanan dan kegagalan. Orang-orang semacam ini yang biasanya bisa berhasil dalam karier politiknya.
Setiap selesai membaca, menulis, mengedit kisah-kisah “Orang-Orang Politik,” kembali saya menyeruput secangkir teh yang sudah agak dingin. Satu hal yang pasti, hari ini saya pelajari semuanya itu. Saya percaya “ilmu” ini berguna, sebagai khazanah pemikiran. Baik ketika masuk kekuasaan, maupun saat jadi oposan.
Yons Achmad. Penulis Biografi, tinggal di Depok