Gliyak Gliyak Tumindak

Orang Jawa pasti mengerti arti gliyak-gliyak tumindak. Tetap berjalan walau pelan, tetap bekerja dengan kesabaran. Orang Jawa, dengan filosofinya, tidak pernah mengerjakan sesuatu secara tergesa-gesa. Mereka, biasanya tetap bekerja, berkarya dengan slow sebaik mungkin dan selesai.

Itu juga yang dilakukan Mas Untung. Dulu, ketika masih bekerja sebagai karyawan kantoran, dirinya penuh kesabaran menjalankan rutinitasnya. Berangkat bekerja jam 6 pagi, selesai jam 5 sore dan sampai rumah sekira pukul 9 malam. Begitu rutinitas yang dijalaninya sekira 15 tahun sebelum akhirnya membuka usaha sendiri.

“Bedone nopo Mas,” kata Bejo sang “asisten pribadinya”

“Yo bedo Jo, koyo awakmu saiki, gajian terus mben wulan to?”

Bejo hanya bisa tersenyum.

“Bedone meneh, saiki yo lumayan mumet, ning wektu bebas Jo”

Mas Untung, kini fokus satu saja. Mengurus dan mengelola Resto “Wong Jowo”. Itu saja, tidak lebih. Pernah mencoba membuka satu dua bisnis baru. Berjalan beberapa bulan, akhirnya tutup. Rugi, sudahlah jelas. Itu sebabnya, kini dirinya hanya fokus saja ngurus bisnis resto “Wong Jowo” itu.

Sementara, istrinya mengurus yayasan sosial. Hasil keuntungan bisnis kulinernya, sebagian untuk kegiatan sosial. Baik di kampung halamannya, maupun di tempat dirinya kini tinggal. Macam-macam aktivitasnya, seperti beasiswa, santunan anak yatim, khitanan massal dan seterusnya. Satu yang belum kesampaian, buat nikahan massal.

Filosofi gliyak-gliyak tumindak terus direnunginya. Dan, tentu saja, diamalkannya.

Umurnya kini memang sudah 40 +. Rasa-rasanya, hidupnya tak mau macam-macam. Mungkin, sampai meninggalnya nanti, hanya resto “Warung Jowo” itu saja yang diurusnya.

Mas Untung, memang tak begitu dikenal. Sebatas, ya pengusaha biasa. Hanya saja, kehadirannya dalam keluarga. Kehadirannya dalam lingkungan di kampung halamannya, setidaknya memberikan arti, memberikan makna. Bermanfaat bagi sesama.

Ya, selaras dengan apa yang dianjurkan agama: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama ((Khairunnas anfauhum linnas)

Kali ini, hidup bagi Mas Untung cukup gliyak-gliyak tumindak saja. Sederhana saja.

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok)

About the Author

Yons Achmad

Penulis | Pembicara | Pencerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these